Masihkan Ogoh-ogoh Ber’taksu’?
By Dek Didi • Mar 4th, 2008 • Category: Featured, Sehari-Hari
Masalah seni, jangan ragukan lagi kemampuan masyarakat Bali mengapresiasi seni. Setiap gerakan tangan adalah penciptaan patung-patung indah dan menjadi komoditi ekspor. Setiap goyangan badan, adalah tarian yang seakan mempunyai roh dalam setiap gerak tari itu. Dan tentu masih ada beribu cara orang Bali mengapresiasi seni lainnya.
Ogoh-ogoh adalah salah satu hasil kreatifitas seni masyarakat Bali. Ogoh-ogoh yang biasa dibuat dalam rangka menyambut Hari Raya Nepi merupakan salah bukti bahwa sebagian besar masyarakat Bali adalah seniman. ….
Buktinya setiap banjar mampu menghasilkan karya ogoh-ogoh yang berbeda-beda tentu dengan nilai seni yang berbeda pula. Ogoh-ogoh kini tidak hanya terpaku pada pakem seni ukir dan seni patung khas Bali. Ogoh-ogoh kini tidak lagi berwujud bhuta kala yang serem atau raksasa yang menakutkan. Ogoh-ogoh kini bisa berwujud pemuda funky atau gadis bahenol.
Memang sebenarnya seni memang tidak seharusnya terpaku pada satu pakem yang sudah ada turun temurun. Apa pun bentuk ogoh-ogoh, tetaplah sebuah seni. Meski terkadang setiap orang mempunyai penafsiran yang berbeda.
Ogoh-ogoh sebenarnya bukan bagian yang esensial dalam perayaan Nyepi. Ogoh-ogoh merupakan budaya baru masyarakat Bali. Tapi meski ogoh-ogoh bukan merupakan hal yang wajib dalam pelaksanaan penyambutan hari raya Nyepi, namun biasanya ogoh-ogoh diarak pada saat pengerupukan (sehari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi). Tujuannya konon untuk mengusir bhuta kala. Ogoh-ogoh berkembang sebenarnya tanpa pijakan sastra agama. Jadi bisa kalau ogoh-ogoh dikatakan sebagai sarana untuk mengusir bhuta kala, mungkin para pemuka agama Hindu bisa memberikan pencerahan mengenai hal ini.
Kembali ke masalah seni, biasanya seni masyarakat Bali identik dengan ‘taksu’, dimana setiap hasil karya seni seolah memiliki roh atau jiwa. Setiap seni menggambarkan unsur kekuatan alam dan penghargaan yang tinggi kepada Sang Maha Pencipta. Tapi sekarang apakah ogoh-ogoh masih memiliki taksu?
Kenapa?
- Setiap membuat ogoh-ogoh biasanya diselingi dengan acara minum-minuman keras bahkan sampai mabuk (meski tidak semua begitu).
- Ogoh-ogoh identik dengan sumbangan. Dalam satau banjar saya seringkali dimintai sumbangan 2-3 kali dalam setiap musim ogoh-ogoh. Kalau tujuannya memang ‘ngayah’ dan ‘yadnya’ kenapa harus dipakasakan sampai bentak-bentak masyarakat yang tidak mau memberi sumbangan untuk ogoh-ogoh? Dimana letak ‘yadnya’nya?
- Pawai ogoh-ogoh seringkali dipakai ajang jor-joran dan sering menjadi lahan perseteruan antar pemuda.
- Jika ogoh-ogoh kontemporer yang berbentuk Inul yang lagi ngebor atau pemuda funky yang naik sepeda antik, apa masih pantas dipakai sarana mengusir bhuta kala?
Lantas, apa ogoh-ogoh masih mempunyai taksu? Mungkin masih ada yang mau menambahkan?
Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi




sering kali tujuan memang gak nyambung dg apa yg dilakukan. termasuk ogoh2 itu. dari sisi seni memang bagus. kreatif. tp, honestly, aku ga yakin bahwa mengarak ogoh2 itu utk melenyapkan buta kala dst. kadang2 yg terasa memang unsur jor2annya itu yg lebih terasa. jdnya ya ironi lg. bener ga ya?
anton’s last blog post..Nyepi Kok Malah Liburan
Bener bli, kadang moment harusnya suci malah dipake jor2an.Tapi tidak semua. Hanya sebagian kecil saja. Banyak sekaha ogoh-ogoh yang memang bertujuan baik.
Sebelumnya salam kenal bli..
Soal ogoh2.. memang harus disadari sudah sejak lama lebih menimbulkan masalah daripada manfaatnya. Menurut saya.. ogoh2 itu cuman kreasi seni sama sekali tidak ada unsur yadnya nya. Karena saat tawur kesanga/pengerupukan.. butha kala sudah di “somia” (di-netral-kan).. dan biasanya ogoh2 di-arak pada malam harinya setelah upacara tawur kesanga.. jadi sudah tidak ada hubungannya dengan yadnya.. terlebih lagi dengan bentuk yg aneh2 dan berbau minuman keras dan emosi..
Mending ogoh2 dicarikan hari lain.. dilombakan pada siang hari.. mungkin acaranya lebih bisa di “jual” dan diantisipasi jika ada masalah.. seperti dulu yg pernah dilakukan Kodya Denpasar.
Wahyu Blue’s last blog post..banyak fotografer-fotografer liar di Bali..
Idenya bagus tuh Bli. Mungkin gak harus diarak pas penerupukan. Tapi kalo gak ada ogoh-ogoh pas pengerupukan juga kurang rame.
Ogoh2 jaman sekarang kan udah bukan simbol buta kala lagi bli…
Yang jadi buta kala justru yang ngarak ogoh2nya itu.Masa mau ngarak ogoh2 minum arak dulu..??
Arak kan minumannya buta kala…!!! bethul tidhak…!! (AA Gim mode on).
Sory kalo ada yg merasa tersinggung..
ady gondronk’s last blog post..Enaknya jalan-jalan ke luar negeri
Hehehe, ada juga yang begitu bli. Mudah2an gak semua ya?
klo pengurupukan tanpa ogoh-ogoh gimana ya?
ekads’s last blog post..Ada apa dengan Google dan Page Rank
Pasti gak seru ya? Enaknya mungkin seperti saran Bli Wahyu Blue
jawaban saya TIDAK sama sekali. ogoh2 = penodongan, ogoh2= perwujudan semangat buta kala yg mengusung dan membuatnya
Di Karibia ada ogoh-ogoh bli?
bagi saya, ogoh2 tetep bertaksu. itu yang saya liat di lingkungan saya (ubud). ga tau kalo di wilayah laen.
pink’s last blog post..Iprit Bikin Keonaran
Syukurlah masih ada ogoh-ogoh yang bertaksu.
secara konsep ogoh-ogoh mungkin masih bertaksu dengan catatan bahwa kearifan orang jaman dahulu dalam menciptakan ogoh-ogoh sebagai budaya atau sebagai salah satu ritual dalam nyepi tetap dipegang teguh. dan tentunya tidak menggenyampingkan makna dari nyepi itu sendiri.
dan beberapa hal yg tyang tidak setuju ketika ada ogoh-ogoh adalah pertanyaan bli didi diatas. kena banget. he.he.
Yanuar’s last blog post..ilalang [Flickr]
kalo metaksu saya rasa udah nggak lagi.
pawai ogoh ogoh tidak lebih hanya sekedar eforia dalam menyambut tahun baru saka.
budarsa’s last blog post..Keramahan Jogja
Om Swastiastu,
Rahajeng nyangra Rahina Nyepi Tahun Caka 1930, tiang ucapkan buat semuanya…
Berkaiatan dengan pertanyaan “masihkan ogoh-ogoh bertaksu?” jawaban saya pasti TIDAK.
Alasan saya sebagai berikut :
1. Ogoh-ogoh bukanlah benda keramat atau benda suci yang disakralkan umat Hindu di Bali jadi kenapa ogoh-ogoh harus me-taksu???
2. Istilah “taksu” sebenarnya merupakan kata yang mewakili suatu rasa atau perasaan suci, keiklasan dan pengorbanan lahir batin sehingga melahirkan suatu rasa hidup dan kehidupan, contoh seperti halnya “Tapakan Ida Batara” di Pura-pura.
3. Ogoh-ogoh dibuat HANYA sebagai pelengkap upacara Butha Yadnya dan ungkapan SENI dan para kreator seni, artinya tanpa ogoh2 pun upacara yadnya waktu pengerupukan tetap bisa dilaksanakan.
Seiring perkembangan jaman dan teknologi di Bali, pembuatan ogoh2 sudah menjadi budaya bagi anak muda hindu di Bali bahkan di beberapa tempat di Indonesia pada hari raya pengerupukan. budaya ogoh2 pun bergeser dari wujud kala yang berwujud mahluk besar yang bernama Raksasa menjadi perwujudan kala yang di rasa masyarakat modern mewakili wujud kala saat ini ya spt itu inul bergoyang ngebor dan lain2. Ogoh ogoh hanya sebagai bentuk ekspresi seniman dalam melihat wujud kala / wujud permasalahan sosial di masyarakat dan ogoh-ogoh bukan benda keramat / benda suci, yang bagi sebagaian umat hindu di Bali percaya harus di-Taksu-kan…
Mengenai proses pembuatan Ogoh-ogoh yang cenderung memaksa para donatur, itu merupakan tindakan yang SALAH dan tidak dibenarkan oleh hukum akan tetapi hal itu merupakan tindakan oknum dan seharusnya pimpinan banjar atau Kelian Banjar memberikan aturan dan pengumuman yang jelas terhadap permintaan sumbangan berkaitan dengan ogoh-ogoh.
Ogoh-ogoh identik dengan kegiatan pemuda untuk mabuk-mabukan juga tidak sepenuhnya benar, kembali lagi kita melihat bahwa budaya minum arak dikalangan pemuda di Bali tidak hanya dilakukan waktu pembuatan ogoh-ogoh atau pada saat pentas perayaan hari ngerupuk, tetapi malah pada setiap acara kumpul para anak muda ini. hal ini tentu SALAH dan tidak baik bagi kesehatan fisik anak muda bali kedepan.
Marilah kita bersama-sama mengevaluasi diri pada hari raya nyepi ini, semoga semua kesalahan yang telah kita perbuat sebelumnya tidak terulang kembali. Ogoh-ogoh tetaplah sebagai budaya lokal Bali yang hadir setiap hari raya pengerupukan sebagai sarana sosial masyarakat bali dalam menggambarkan wujud kesenjangan sosial, masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Ogoh-ogoh metaksu atau tidak TIDAK PENTING! Yang penting wujud ogoh-ogoh yang dibuat para seniman itu dapat menyadarkan dan mengingatkan para pimpinan kita di Bali agar lebih memperhatikan suara masyarakat kecil dan membuat kebijakan publik demi kesejahteraan rakyat bali.
Om Canti Canti Canti Om.
begini kalau simbol dipertahankan tanpa tau maknanya, bli. kalau saya sendiri seh, senang2 ajah dengan ogoh2, saya suka seremonial, mengindentifikasi sesuatu.
dewi’s last blog post..tentang neverland
Dear All,
Terima kasih atas tanggapan sodara-sodara sekalian. Tulisan ini saya muat bukan bertujuan untuk menciptakan pro dan kontra tentang ogoh-ogoh dan penyepian. Mari kita berpikir jernih, bahwa ogoh-ogoh adalah sebuah seni yang patut kita banggakan dan pertahankan. Karena Bali memang identik dengan seni. Tapi ketika seni dicipta tanpa makna hanya bertujuan untuk jor-joran apa pantas seni masih dipertahankan?
Terlepas dari setuju dan tidak setuju, kita kembalikan kepada individu masing-masing. Ada banyak hal yang membuat ogoh-ogoh layak dipertahankan, namun ada banyak hal pula yang membuat ogoh-ogoh kehilangan maknanya.
Jadi mari lestarikan ogoh-ogoh tanpa menodai makna penyepian yang harusnya suci.
Rahajeng nyanggra Rahina Nyepi Saka 1930. Dumogi setata ngemolihang kerahajengan sareng sami.
parade ogoh-ogoh besok ini, saya harap melihat sesuatu yang tidak seperti biasa
anima’s last blog post..Welcome to the club, amazu!
Ogoh-ogoh cerminan kreatifitas positif bagi kalangan muda hindhu bali terlepas dari pro dan kontra-nya, Bali adalah daerah dengan pencitraan budaya dan seni yang tinggi, tinggal teknis di lapangan yang harus di berikan rambu-rambu yang jelas…kalo kita semua mau memperbaiki saya yakin akan bertambah menarik dan metaksu. Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1930…
setuju sama wahyu, ogoh-ogoh sebenarnya harus dimanage lagi dari semua sisi..ditelaaah lagi deh..
kalau cuma kreasi ya nggak masalah jalan saja asal tidak mengganggu esensi agama sesungguhnya.
kalau jadinya malah membuat pecaruan, prosesi nyomia bhuta kala dan runutan nyepi lainnya jadi terabaikan karena pada “sibuk”mempersiapkan ogoh2 dengan ada membawa miras, ya tentu saja harus berani kita bilang tidak..
saya, nyepi ini ada melihat semangat lain, banyak anak-anak malah yang terlibat, ini peluang besar buat mengedukasi anak-anak dengan pintu masuk tradisi yang sudah ada. karena ada nilai positif juga yang saya temukan kemarin pada anak-anak ini, semangat bekerjasama dan belajar merencanakan sebuah aksi kecil-kecilan…
ok, met taun baru saka 1930
okanegara’s last blog post..Wulan Stigma Posting Bulletin Tentang Pernyataan Sikap Memperingati Hari Perempuan Internasional-via FS
Klo saya seneng2 aja ada ogoh, apalagi dilingkungan perumahan tempat tinggal saya yang kebetulan multikultural kelihatan banget toleransinya, yang bikin saya nyengir ngeliat anak yang ikut pawai ogoh bagian depan yang bawa spanduk dan obor sambil teriak…sahur..sahur…
widi’s last blog post..BELUM ADA JUDUL
Memang terjadi pergeseran makna ya bli, Ogoh2 seharusnya menjadi sarana untuk memperoleh ketenteraman, tapi nyatanya bisa menimbulkan keresahan.
artana’s last blog post..Ngayah
rasanya yg jadi kontributornya disini bukan bli dek didi deh,tetapi malah bli harry.

ady gondronk’s last blog post..Entil,Makanan Tradisional Masyarakat Desa Wongaya Gede
1. Memandang ogoh-ogoh saya kira harus dari segi budaya! Karena dari dulu sampai sekarang dalam buku agama yang saya baca tidak pernah disebutkan bahwa ogoh-ogoh harus dibuat pada saat tawur kesanga (Buku agama lho ya, bukan kitab).
2. Ogoh-ogoh itu adalah hasil karya manusianya yang tidak terlepas dari budaya masyarakatnya. Kalau objectnya dipandang salah (hasilnya dalam hal ini), saya kira yang harus diperbaiki adalah budaya orang-orangnya, bukan objectnya.
3. Ketika kita mengkritik perilaku pada saat malam pengrupukan saya kira harus dipisahkan antara manusia pelakunya dan object ogoh-ogoh itu sendiri. Ogoh-ogoh cuman benda mati, dan tidak bisa dijadikan kambing hitam.
4. Jadi menurut saya yang harus dipertanyakan adalah masihkah budaya malam pengrupukan (serta hari-hari sebelumnya) sesuai dengan nilai-nilai keagamaan yang menyertainya?
5. Masalah metaksu atau tidak saya kira itu kembali kepada masing-masing individunya.
6. Salut buat Bli yang sudah mem-posting ini. Mohon maaf kalau ada salah-salah kata.
7. Suksma, Terima Kasih, Tengkyu!
imsuryawan’s last blog post..Mengapa Menggunakan Domain Sendiri Untuk Sebuah Blog?
Mengapa Sabung Ayam (Metajen) Masih Marak di Bali? Bahkan di adakan Di pura Pula, Bukankah Hal ini bertentangan dngan WEDA, apakah selama ini masyarakat Bali belum menyadari Hal ini???
Oya sy kurang Paham, apakah Tabuh Rah (menggunakan telor & kelapa) ada dalam WEDA ataukah Hanya Tradisi Bali ?? Tks.. Mohon Jawabannya….