Makna sebuah Valentine
By Dek Didi • Feb 10th, 2008 • Category: Sehari-HariSaya mungkin sudah terlalu tua untuk sekedar Valentine-an. Tapi karena dulu saya tidak pernah dan tidak pernah mau mencoba merayakan Valentine, sekarang timbul niat ini untuk mengupas makna sebuah Valentine dilihat dari persepsi adat ketimuran.
Kisah Valentine bermula ketika raja Claudius II (268 - 270 M) mempunyai kebijakan yang melarang prajurit-prajurit-nya untuk menikah. Menurut raja Claudius II, bahwa dengan tidak menikah maka para prajurit akan agresif dan potensial dalam berperang.
Kebijakan ini ditentang oleh Santo Valentine dan Santo Marius, mereka berdua secara diam-diam tetap menikahkan para parujurit dan muda-mudi, lama-kelamaan tindakan mereka diketahui oleh raja Claudius, sang raja pun marah dan memutuskan untuk memberikan sangsi kepada Valentine dan santo Marius yaitu berupa hukuman mati.
Sebelum dihukum mati, Santo Valentine dan Santo Marius dipenjarakan dahulu, dalam penjara Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara, kemudian gadis ini setia menjenguk valentine hingga menjelang kematian Valentine. Sebelum Valentine dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada gadis kenalannya, yang isinya :
‘ From Your Valentine ‘
Setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, orang-orang selalu mengingat kedua santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Valentine, dua-ratus tahun kemudian yaitu tahun 496 Masehi setelah kematian Santo Valentine dan Santo Marius, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Pebruari 496 sebagai hari Velentine.
Itulah sejarah hari Valentine yang ternyata untuk mengenang dan memperingati dua orang suci Kristen Katolik yang mengorbankan jiwanya demi kasih sayang.
Ada versi lain tentang sejarah Valentine, yaitu pada masa Romawi Kuno, tanggal 14 Pebruari merupakan hari raya untuk memperingati dewi Juno, dewi Juno adalah ratu dari segala dewa dan dewi, orang-orang Romawi kuno juga meyakini bahwa dewi Juno adalah dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan.
Pada tanggal 14 Pebruari orang-orang Romawi kuno mengadakan perayaan untuk memperingati Dewi Juno dengan cara memisahkan kaum laki-laki dan perempuan. Nama-nama remaja perempuan ditulis pada potongan kertas lalu digulung dan dimasukkan ke dalam botol, setelah itu para laki-laki mengambil satu kertas sebagai, setiap laki-laki akan mendapatkan pasangan sesuai nama yang didapat dalam undian tersebut, bila kemudian mereka ada kecocokan maka mereka akan melangsungkan pernikahan dihari-hari berikutnya.
Pada akhirnya perayaan Valentine ini menjadi sebuah ritual yang mendunia, meski awalnya hanya sebuah perayaan kecil untuk memperingati kasih sayang seorang Santo Valentine.
Gejala Valentine ini tidak hanya menjadi ritual saudara-saudara Kristiani, tapi sudah merambah pada hampir semua kalangan. Tanyakan kepada anak-anak SD sekarang, mereka sudah mengenal Valentine, yaitu hari kasih sayang, meski mereka tidak tahu sejarah awal Hari Valentine ini.
Sah-sah saja kita mengikuti suatu budaya yang bukan merupakan budaya asli (adat ketimuran kita). Sah-sah pula kita mengekspresikan perasaan sayang kita kepada pasangan kita. Yang menjadi masalah adalah, ketika perayaan Valentine identik dengan ungkapan cinta dari seorang pacar. Selajutnya menjurus kepada pergaulan bebas, seks bebas dan mudahnya seorang remaja yang belum siap lahir dan bhatin melakukan hubungan seks sebelum pernikahan hanya karena mereka mau membuktikan rasa sayang sama pacarnya.
Di Bali, seolah sudah menjadi trend bahwa sebelum seseorang melangsungkan pernikahan, sang pacar wajib dicoba dulu. Ketika kita kundangan ke acara resepsi seseorang, banyak yang pada saat acara perkawinan sang istri sudah berbadan dua. Adakah gejala ini sebuah pemunduran moral atau kejadian ini hanya sebuah kejadian biasa yang tidak perlu dipusingkan????
Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi




ada juga yang berpendapat seeperti ini :
http://eepinside.com/?p=788
“sang pacar wajib dicoba dulu”
Wah, yang ini yang perlu ditinjau ulang. Memang salah satu tujuan mengadakan perkawinan yaitu keturunan, tapi bagaimana dengan wanitanya?…kasihan kalau setelah “dicoba” nggak bisa hamil…dibuang pastinya.
Selamat Hari Valentine…buat semua mahluk Tuhan yang masih memiliki rasa cita dan kasih sayang.
Semoga dunia makin damai dan tentram.
valentine ituh sunnah syetan syari’at iblis…masalah moral remaja indonesia sebagian besar memang dah ancur////1! revolusi sistem solusinya
# Gilang
Kalo moral memang dah ancur, mau revolusi sistem gimana? Kan yang moralnya hancur dah lebih banyak. Anda yang masih alim sepertinya bakalan kalah………..
Kalau saya sih nggak mau berpikir njelimet. Kalo saya gak setuju paling diem, itu hak pribadi mereka. Masalah moral, masalah akhlak, masalah hubungan manusia dengan Tuhan adalah urusan individu.
Jadi ketika berpikir untuk merevolusi sebuah bangsa, saya lebih berpikir untuk merevolusi pola pikir saya.
Apakah saya termasuk kolot, atau saya termasuk sok kebarat-baratan?
Tidak semua yg dari barat itu jelek, tidak semua juga yang dari timur baik.
Tergantung seberapa bijak kita menyaring setiap invasi budaya dalam diri individu kita.
Salam kenal
menurutku ga soal ngrayain valentine. apa sih salahnya orang berkasih sayang. masak gara2 budaya “barat” lalu dtolak. lha, buktinya hape, kompi, dst dinikmati tuh. itu semua kan produk “barat”.
lagian hare gene masak masih ada timur barat? jadul banget.