Tegalalang, Gelimang Dollar dan Kesedihan Petani
By Dek Didi • Feb 3rd, 2008 • Category: Pariwisata
Siang tadi saya sempat ke Ceking, Tegalalang untuk sebuah pertemuan dengan pengusaha lokal yang bergerak di bidang jasa restoran untuk membicarakan sebuah strategi pemasaran secara online lewat website.
Meski saya senang bisa mendapatkan proyek penggarapan website dan marketingnya, namun ada satu hal yang membuat saya berpikir. Di depan beberapa artshop dan restoran saya termukan tulisan yang berbunyi:
IF YOU SHOOT THE FARMER, THEY WILL ASK YOUR MONEY
Maksudnya kira-kira “jika anda mengambil photo para petani itu, makan si petani akan meminta imbalan uang”. Adakah yang salah? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Niat si pemilik usaha mungkin ingin mengingatkan kepada pengunjungnya agar tidak mengambil foto para petani itu agar tidak dimintai uang. Pemilik usaha menginginkan kenyamanan bagi setiap pengunjung.
Jika dicermati, ada semacam ketidakadilan dalam hal ini. Yang saya tangkap dari sini adalah petani merasa terpinggirkan. Mereka yang berusaha menjaga keasrian dan keindahan alam yang begitu indahnya di Tegalalang merasa tidak mendapat kompensasi dari berlimpahnya kunjungan wisatawan kesana. Mereka hanya dijadikan obyek, yang dipaksa secara tidak langsung untuk menjaga agar terasering persawahan disana tetap utuh. Namun, mereka tidak pernah mendapatkan berkah dari hasil pengabdian mereka. Keindahan yang mereka ciptakan dan mereka pertahankan hanya dijadikan lahan untuk mengeruk dollar oleh para pemilik modal. Mereka dapat apa?
Sebenarnya beberapa waktu yang lalu para petani ini telah melakukan aksi menentang ketidakadilan ini dengan cara memasang seng yang menghadap ke jalan raya, dimana para wisatawan menikmati keindahan alam disana. Akibatnya, seng yang dipajang di sepanjang pematang sawah memberi efek silau bagi pengunjung. Dan pengunjung akan terganggu. Namun tidak berselang lama, akhirnya petani menyerah dan akhirnya mengambil kembali seng-seng yang mereka pajang itu. Pemkab Gianyar mungkin memberikan kompensasi kepada para petani di sana.
Barangkali kompensasi yang mereka terima belum seadil yang mereka harapkan, sehingga timbullah kejadian tadi. Ketika wisatawan mengambil foto mereka, kompensasinya adalah meminta imbalan dari wisatawan.
Saya mencoba mengambil beberapa foto pemandangan disana, dan kebetulan juga ada pemilik sawah yang sudah tua. Saya foto beliau dan ternyata benar, minta uang dan ditawarin sebuah topi yang dibuat dari bahan daun kelapa. Harganya tidak mahal memang, tapi ketika saya ajak mereka ngobrol-ngobrol ringan, akhirnya saya tahu bahwa satu buah topi daun kelapa sangat berarti bagi kelangsungan dapur mereka.
Di sisi lain, jika perkiraan saya di atas salah, itu artinya ada pemahaman yang keliru dalam pola pikir para petani. Mungkin mereka tidak sampai berpikiran bahwa cara-cara mereka mendapatkan uang adalah hal yang tidak nyaman bagi pengunjung. Sumber daya manusia yang patut dibenahi, diberikan pemahaman. Tapi, tentu pemahaman saja tidak cukup. Mereka perlu makan. Peran pemerintah dalam menyeimbangkan dan mempertahankan potensi wisata yang ada dan kesejahteraan masyarakat mutlak diperkukan.
Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi







saya pikir yang diperlukan adalah komunikasi yg lebih intens dan baik antara petani dan para pengusaha pariwisata itu. masang seng disawah adalah tidak bijaksana, juga adanya tulisan oleh pengusaha itu tidak bijaksana juga.
mestinya semuanya bisa duduk satu meja di moderatori pemerintah daerah.
sayangnya disini, (indonesia) namanya pemerintah, alias tukang perintah, jadi cuma bisa perrintah aja, ga bisa menengahi masyarakatnya (apalagi kalau ga ada uangnya, heheheheh) salam kenal
intinya adalah komunikasi. semuanya bisa dikomunikasikan. kalau kaya begitu kan kesannya seperti ada ‘perang’ dan tamu juga yang ngerasa ga nyaman
Dilema juga ya, mengharap pemerintah utk turun tangan kayanya susah juga, menurut saya baiknya desa adat yang ikut terlibat disana, seperti yang saya tau pengelolaan parwisata ditanah lot pemda bekerja sama dengan desa adat utk mengelola pariwisata jadi masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya seperti pembangunan pura yang tidak dibebankan ke warga, setiap lima tahun ada ngaben masal yang juga dananya sebagian besar merupakan hasil pengelolaan pariwisata tersebut, mungkin langkah ini perlu ditiru karena sejatinya hubungan antara petani dan pengusaha pariwisata tsb merupakan hubungan mutualisme.
Sedimikian parah nya kah, sudah terjadi jurang atau jarak antara petani dengan pengusaha di daerah pariwisata semacam Tegalalang - Ubud - Bali.
Kesenjangan sosial yang sudah terlalu lama dibiarkan berlangsung tanpa adanya kepedulian dari instansi pemerintah terkait, anggota DPRD “yang terhormat” dan komunitas petani atau komunitas pengusaha. Hal ini apabila terus dibiarkan maka pelan-pelan tapi pasti akan menimbulkan konflik sosial yang parang dalam sistem masyarakat setempat khususnya dan pariwisata bali pada umumnya.
tema ini sangat menarik diangkat, sebagai wujud “kepedulian” kita akan kesenjangan sosial dan ekonomi yang terjadi di Bali. Semoga kita sama-sama peduli dan dapat berbuat banyak untuk mencarikan solusi.
memasang tanda seperti itu saya rasa tindakan yang sedikit berlebihan…… kenapa ga diatur/ditertibkan juga para pedagang acung yang memaksa tamu untuk memebeli barang disana.
iseng liat tulisan ini bli. tulisan yang menarik. sebagai anak petani, saya tidak pernah merasakan ada manfaat dari pemerintah buat para petani. pemerintah hanya peduli dengan petani menjelang berakhirnya masa jabatan mereka. mungkin tujuannya untuk meningkatkan popularitas ato untuk menghabiskan dana apbd ato cuman membuka proyek - proyek baru yang amat sangat rawan sekali dengan korupsi.
Nyoman Ribeka’s last blog post..Pencemaran Nama Baik