Bali is My Life

Jele Melah Gumi Gelah

Media Terlalu Memihak Soeharto??

By Dek Didi • Jan 13th, 2008 • Category: Media

Setelah mantan Presiden Soeharto (Pak Harto) dikabarkan sekarat, media kita seolah berlomba-lomba memberitakannya. Bahkan beberapa stasiun TV yang sampai mengadakan siarang langsung tengah malam. Ibu-ibu tetangga saya sampai bilang terganggu, karena sinetron unggulan mereka tidak tayang, dikalahkan berita mantan penguasa orde baru itu. Begitu pula kolega-kolega (atau kroni-kroni?), datang memenuhi Rumah Sakit Pertamina Jakarta.

Bukti hegemoni Soeharto?

Mari kita ikuti apa yang terjadi dengan Bung Karno ketika sakit (Tulisan di bawah  ini diambil dari Bali Post)

Apa yang Terjadi Ketika Bung Karno Sakit?

Ketika kondisi kesehatan Pak Harto makin kritis, ada baiknya kita melongok bagaimana kondisi ketika mantan Presiden RI Soekarno alias Bung Karno (BK) saat sakit. Sebagian warga Indonesia tak mengetahui kondisi BK saat itu, apalagi ada yang menghubungkan dengan peran Pak Harto. Bagaimana keadaan Bung Karno menjelang ajal menjemput nyawanya?

UNTUK menjawab rasa penasaran banyak orang itu, Rachmawati Soekarnoputri membongkar sejumlah dokumen tentang kesehatan Bung Karno, 11 Mei 2006 lalu di kantor Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS), di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Dokumen-dokumen berusia 36 tahun itu menggambarkan kondisi kesehatan Bung Karno, terutama setelah dia tidak lagi menjadi presiden. Juga menggambarkan perlakuan penguasa ketika itu terhadap Bung Karno.

Memasuki pertengahan Agustus 1965, kesehatan Bung Karno drop drastis. Pada 4 Agustus, ia terjatuh dan kolaps di kamarnya di Istana Merdeka, Jakarta. Sejumlah kabar menyebutkan Bung Karno terjatuh karena serangan stroke. Dia sempat dibawa ke Istana Bogor untuk mendapat perawatan intensif.

Peristiwa Bung Karno kolaps sempat melahirkan berbagai rumor yang sulit dikonfirmasi. Sempat pula berkembang spekulasi yang mengatakan bahwa Bung Karno tidak akan mampu menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan hari Proklamasi 17 Agustus 1965.

Kesehatan Bung Karno yang memburuk ini pula yang ikut memperpanas konstelasi politik nasional saat itu. Suhu politik dan persaingan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sebelumnya sempat mengusulkan ide angkatan kelima dengan TNI Angkatan Darat semakin panas.

Kehadiran tim dokter dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang membantu pengobatan Bung Karno juga mempertajam konflik di antara PKI dan AD. Sebab RRT dianggap sebagai sponsor utama ide angkatan kelima yang bikin resah itu. Di tengah suhu politik yang makin panas, Bung Karno kembali muncul pada peringatan detik-detik Proklamasi ke-20 di Istana Merdeka. Dia hadir lengkap dengan pakaian kebesaran dan tongkat komando yang seakan tak pernah lepas dari genggaman.

Singkat cerita, Maret 1967, Soeharto dilantik sebagai pejabat presiden. Sejak itu Bung Karno dikucilkan dan dilarang menginjakkan kaki di Jakarta. Maret 1968, Soeharto dilantik sebagai presiden. Menyusul pelantikan itu, di awal April 1968, Bung Karno angkat kaki meninggalkan Istana Bogor.

Dari istana yang berseberangan dengan Kebun Raya Bogor, Bung Karno pindah ke Batu Tulis. Tetapi udara Bogor yang dingin kala itu amat mengganggu kesehatannya yang tak kunjung membaik. Rematik Bung Karno semakin parah dan menyerangnya bertubi-tubi setiap hari. Di saat sakit yang semakin tak tertahankan, Bung Karno mengutus Rachma ke Jakarta, menyampaikan surat permohonan kepada Soeharto agar dia diperbolehkan kembali ke Jakarta.

Beberapa bulan kemudian, Bung Karno kembali menginjakkan kakinya di Jakarta, tepatnya di Wisma Yasso, Jalan Jenderal Gatot Subroto. Di Wisma Yasso, rumah Dewi Soekarno yang kini menjadi Museum Satria Mandala itu, Bung Karno dijaga ekstra ketat siang dan malam.

”Ada satu periode di mana kami, anak-anaknya, tak boleh bertemu dengan beliau. Begitu juga dengan kerabat keluarga yang lain. Tetapi ada satu periode di mana saya bisa menjenguk Bapak tiga hingga empat kali dalam seminggu,” kenang Rachma.

Tanggal 6 Juni 1970, bertepatan dengan hari ulang tahun Bung Karno yang ke-69, Rachma dan Guruh menjenguk Bung Karno di Wisma Yasso. Rachma masih ingat, saat itu Bung Karno tengah berbaring di sofa. Sekujur tubuhnya bengkak. Suaranya sudah tak jelas lagi. Begitu juga dengan pandangan matanya.

”Sakit ginjal yang diderita Bapak tak pernah diobati secara layak,” ujar Rachma lagi. Dalam kunjungan itu, Rachma memotret Bung Karno. Foto itu kemudian diberikan Rachma kepada seorang jurnalis kenalannya. Urusan memotret ini membuat Rachma berurusan dengan Corps Polisi Militer (CPM).

”Mengapa saya tak boleh memotret BK. Memang status BK apa,” tanya Rachma ketika diinterogasi.

Dengan ringan si pejabat CPM menjawab, Bung Karno adalah tahanan. ”Setelah bertahun-tahun, itu adalah pengakuan pertama dari mulut mereka,” kata Rachma.

Beberapa hari setelah kunjungan Rachma itu, Bung Karno dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Kesehatannya makin memburuk.

Tanggal 21 Juni 1970, sekitar pukul 04.30 WIB, pihak RSPAD menghubungi Rachma. Dia diminta segera ke RSPAD menemui Bung Karno. Sekitar pukul 07.00 WIB, Rachma dan saudara-saudaranya dipersilakan memasuki ruang rawat Bung Karno. Alat bantu pernapasan dan jarum infus telah dilepas. Bung Karno tergolek lemah. Matanya tertutup rapat, napasnya satu-satu. Tak lama, malaikat maut menjemput sang proklamator itu. (net)

Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi

4 Responses »

  1. Dari berita di Koran & TV, keduanya sangat ironis sekali…
    Kalau dilihat jasa keduanya sama berjasa khan…
    Kemarin sempat mampir di gramedia Gatsu, buku2 tentang Soeharto juga dipajang paling depan loh!…

  2. Bung Karno pernah berkata : “Jangan Lupakan Sejarah”… dan saat ini saya juga berkata : “Percayalah, karmapala itu ada”…

    Kita pasti akan mudah mengingat kembali sejarah dengan kembali membaca literatur sejarah yang ada baik itu yang obyektif atau yang subyektif. Tapi akan sulit bagi kita untuk memahami dan belajar dari kesalahan2 yang pernah tercatat dalam sejarah tersebut karena hampir sebagian besar kejadian besar di dunia merupakan pengulangan kesalahan dari suatu sejarah masa lampau. Salah satu faktor yang menyebabkan karena adanya pelaku sejarah itu yang kembali mengalami pengulangan peristiwa atau kejadian yang hampir sama dengan sejarah dulu hanya mungkin kemasannya yang sedikit membedakan.

    Karmapala merupakan filosofi ajaran Agama Hindu, yang mungkin bisa memberi jawaban atas fenomena itu, salah satu indikasi yang bisa kita telaah dari kasus suharto, Sukarno dibuat dalam kondisi lemah dan tidak berdaya dalam pengasingannya pada masa pensiunnya begitu juga “karmapala” yang didapat suharto, dalam masa pensiunnya, dia terasing di cendana, “tertuduh mbahnya koruptor”, tersiksa dalam kondisi fisik yang sepuh dan tak berdaya karena ajal tak kunjung menjemput.

    akan kah Suharto, akan dijemput ajal setelah 15 hari dari hari kelahirannya (sebagimana sukarno?)…hanya Tuhan yang tahu dan hasil sistem kalkulasi karmapala yang akan memberi jawabannya dengan akurat.

    semoga kita bisa belajar dari kesalahan & sejarah serta Percayalah karmapala!

  3. sukarno dan suharto bagi 2 sisi mata uang. masing2 ada baik dan buruk. lihatlah… saat pemakaman suharto , rakyat berjubel. ibu2 pingsan. tanyakan pada orang tua kita : lebih suka mana dari 3 jaman yang pernah mereka lalui ? rasanya jaman Orba adalah jaman dimana tak pernah ada antri minyak, sekolah murah, dollar cuma 1500, harga emas hanya sekitar Rp.50 ribu per gram. ;) adakah di jaman soekarno ?

  4. #Artana
    Saya tidak begitu tahu, bagaimana pemberitaan pada jaman Soekarno. Tapi saya yakin, tidak seheboh sekarang.

    # Harry
    Ya, belajar dari sejarah kawan. Sejarah adalah proses dan pengalaman.

    # mata kita
    Secara pribadi, saya merasakan apa yang saya alami sekarang dan saya menulis apa fenomena yang terjadi sekarang.
    Kalau saya hidup pada jaman dulu, dimana pers merupakan milik sang raja, mungkin saya tidak berani nulis seperti ini. Semua ada aturan tidak tertulis, dan ketika kita berani melawan lewat media, mungkin Anda tahu apa yang akan terjadi.
    Sekarang ketika media sudah semakin mudah kita ciptakan, semakin banyak wadah menuangkan inspirasi dan aspirasi kita, tidak ada yang salah ketika kita berani menyampaikan aspirasi.
    Saya tidak menyebut Soekarno lebih baik dari Soeharto, Sohearto lebih baik dari SBY, SBY lebih baik dari Mega, Mega lebih baik dari Gus Dur, atau yang satu lebih baik dari yang lain. Hanya sekedar berbagi, betapa Soeharto masih menjadi bahan berita yang cukup laku buat masyarakat.
    Namun ketika masyarakat ditanyai, kenapa mau nonton berita Pak Harto, jawaban mereka tentu beragam. Ada yang kasihan, ada yang biasa-biasa saja, ada yang cuma pingin tahu, bagaimana beritanya. Beragam.

    Salam

Leave a Reply