Bali is My Life

Jele Melah Gumi Gelah

Kalpataru ditengah Rusaknya Hutan Lindung dan Alam Kintamani

By Dek Didi • Jun 12th, 2008 • Category: Featured, Lingkungan

Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu laksana lenyap tatkala mereka merasakan kegembiraan dan kebanggan mengarak trofi Kalpataru itu.

Wajarlah jika mereka berbangga diri. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden SBY kepada salah seorang perwakilan warga Buahan. Dan, prestasi itu merupakan prestasi yang jarang bisa didapatkan oleh sebuah kelompok masyarakat. Mereka dianggap mampu melestarikan hutan lindung yang berada di sekeliling desa Buahan. 

Desa Buahan merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam wilayah Bintang Danu Berada di antara Desa Kedisan dan Abang. Berada di sebelah selatan Danau Batur, di bawah tebing pinggiran kaldera Batur sebelah selatan. Tebing ini ditumbuhi beraneka jenis tanaman tropis yang cukup lebat. Mungkin karena mampu mempertahankan kelestarian hutan lindung di sebelah selatan dan barat desa inilah yang akhirnya mengantarkan masyarakat Desa Buahan mendapatkan penghargaan ini.

Jika Desa Buahan mampu membuat saya ikut merasa bangga sebagai warga Kintamani, tidak demikian halnya dengan Desa-desa lain yang juga masuk kawasan Bintang Danu. Di Batur misalnya, daerah sekitar Pura Jati yang harusnya menjadi bagian dari hutan lindung Gunung Batur kini bopeng, karena maraknya galian C dan banyaknya bangunan darurat yang dibuat masyarakat disana guna keperluan menginap hanya untuk beberapa hari ketika ada piodalan di Pura Jati.

Demikian pula di Songan, tidak jauh berbeda. Di Banjar Tabu, sebuah sekolah hampir nyemplung ke dasar tanah. Pinggiran sekolah sudah dikeruk habis oleh masyarakat untuk digali pasirnya. Akibatnya, sebuah sekolah menjadi korban. Toh masyarakat cuek saja. Asal masih bisa gali pasir, dan menghasilkan uang, peduli amat. Sekolah urusan pemerintah………….. Begitu sering saya dengar… Menyedihkan.

Di Trunyan, sama saja. Hutan di areal Gunung Abang tiap tahun terbakar. Entah kebakaran itu disengaja, atau tidak. Yang jelas kebakaran itu bukan saja menimbulkan dampak bagi kawasan Gunung Abang saja, tapi meluas sampai ke daerah-daerah sekitarnya. 

Sebagian besar memang alam Kintamani, yang konon dulu merupakan kawasan wisata kaldera terindah di dunia sudah dikorbankan untuk keserakahan manusia. Semuanya memang atas nama materi. Ketika perut sudah menununtut isi, siapa yang akan peduli terhadap masalah yang akan timbul 50 tahun lagi?

Kebijakan pemerintah terkadang terasa aneh. Ketika alam sudah rusak parah, yang terjadi bukannya reboisasi atau upaya pembenahan, malah di sekitar Pura Jati, tanah hutan terkesan dibagi-bagi. Hutan yang harusnya menjadi penyangga kelestarian ekosistem kini beralih fungsi mnenjadi lahan pertanian. 

Setiap kali pulang kampung, saya melihat semakin berkurang pohon-pohon tinggi itu, karang-karang sisa letusan itu yang dulu menjulang memberi pemandangan yang khas daerah pegunungan kini telah menjadi bagian dari tembok-tembok rumah.

Apakah ketika nanti saya punya anak dan saya ajak pulang ke Kintamani, akankah masih mendapatkan pemandangan yang indah itu???

Kalpataru, semoga bukan cuma penghargaan dan trofi cantik. Kintamani perlu perubahan. 

 

 

 

Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi

8 Responses »

  1. semoga setelah dapat kalpataru akan berhenti merusak hutan lg. :)
    anton’s last blog post..Untung Ada Coto Makassar

  2. selama yang namanya manusia hidup dan kebutuhan ekonomi yang semakin mendesak, saya rasa perusakan hutan baik yang sengaja maupun yang tidak sengaja bakalan terus melanda hutan2 kita. apalagi di tambah komitmen pemerintah yang setengah hati untuk menjaga hutan biar tetap hijau.
    “kalau berani cabut HPH dan jangan lagi mengeluarkan HPH”

    ick’s last blog post..Pernak pernik Kematian

  3. Ngga hanya kalpataru bro, banyak penerima Adipura yang keliatan bersih didepannya aja, dalemnya ga karuan (ada yang sungainya kotor dsb)

  4. Selamat Buat Warga Desa Buahan, semoga tetap bisa menjaga kelestarian hutannya! Selamat buat warga desa didaerah bintang danu karena ada contoh nyata didekat desanya tentang arti sebuah perjuangan untuk tetap melastarikan alam, semoga warga desa, aparat desa, aparat pemerintah di didaerah bintang danu bisa segera sadar akan pentingnya arti hutan dan kelestariannya.

    Harapan saya, semoga anak cucu saya bisa tetap menikmati keindahan alam gunung Batur, jikalau mereka nanti melakukan wisata traking / pendakian di gunung Batur & sekitarnya, sebagaimana Bapaknya / Kakeknya dulu pernah lakukan bersama tiga orang sahabatnya yang merupakan warga Songan yang hebat!

  5. iya benar dek, semoga kalpataru bukan cuma trofi semata ya

  6. waduh beneran tuh bli di songan sekolahnya ampir ambruk??? ntar mesti sidak kesitu neh…

    ghozan’s last blog post..Resetting My Internet Cafe

  7. bagaimana mau menjaga kelestarian alam, lingkungan disekitarnya saja tak pernah diperhatikan, sebagai contoh saja di kota Denpasar sekarang lain dari pada yang dulu, sekarang aliran air saja dijadikan tempat menanmbal ban dan bengkel, ataupun warung tegal. wahai petugas satpol PP kalo kerja yang tegas dong jangan hanya menangkap pedagang asongan saja coba deh jalan jalan di jalan cargo permai(sekarang namanya jl mahendradata) . distu banyak warteg dan bengkel liar memang pernah ada petugas anda keliling tapi cuma menyapa say halooooo apa sdh di kasih uang yaa , prettt……

    Dek Didi Reply:

    hayoooo…gimana tuh?

Leave a Reply