Me”Galung” di Kampung. Untung Saya Punya Kampung…
By Dek Didi • Jan 23rd, 2008 • Category: Lain-lainAda kepuasan tersendiri ketika saya menyempatkan diri pulang kampung untuk Megalung. Banyak teman-teman yang tidak merasakan bagaimana indahnya pulang kampung. Rekan-rekan kantor saya, yang warga asli dari Denpasar, Nusa Dua atau Kuta mengatakan sering menyatakan kalau mereka memimpikan bagaimana suasana pulang kampung untuk merayakan upacara. Ya, mereka tidak pernah merasakan bagaimana rasanya pulang kampung karena mereka tidak punya kampung. Mereka hanya punya kota. Hehehe…
Kampung saya ada dipelosok pedesaan di Kintamani, di pinggiran Danau Batur. Jika ditempuh dengan kendaraan bermotor dari Denpasar memakan waktu lebih kurang 2 jam. Sebelum berangkat ke kampung biasanya kami janjian untuk berangkat bersama-sama dari Denpasar dengan saudara-saudara yang tingal di Denpasar. Biasanya kami pulang pada Hari Senin sore atau Selasa pagi, tergantung dari kesibukan di kantor masing-masing. Selama di perjalanan, kegembiraan itu sudah tergambar di wajah-wajah para perantau ini.
Hal yang paling menyenangkan ketika sampai di kampung adalah dapat berkumpul dengan seluruh keluarga besar baik yang tinggal di kampung atau di daerah lain. Setelah enam bulan berpisah, akhirnya Galungan kembali mempertemukan kami dalam suasana yang penuh kerinduan. Kebahagiaan makin bertambah ketika seluruh keluarga serentak melakukan persembahyangan bersama. Apalagi ditambah ngobrol-ngobrol ringan ditemani sate dan be guling (kalau kebetulan punya).
Saya memang menyempatkan diri pulang kalau ada upacara di pura atau merajan di kampung, dan itu pun cuma 1 atau 2 hari. Jadi kesempatan untuk bertemu dengan seluruh keluarga memang jarang.
Dan ternyata, seperti judul sinetron, harta yang paling berharga adalah keluarga.
Namun ada satu hal yang kurang lengkap ketika di kampung, Anda pasti tahu. KONEKSI INTERNET. Dulu sebelum saya pakai XL Centrin sangat merasa kesulitan mendapatkan koneksi internet. Pakai TelkomNet, lambatnya itu, bikin mau meremas-remas komputer. Bagi Anda yang tidak bisa hidup tanpa internet, tapi tetap ingin megalung di kampung pastikan Anda berjaga-jaga dengan koneksi internet.
Tulisan ini saya buat di kampung, jadi mungkin kampungan……. Hehehe…..
Anda punya cerita kampungan lainnya???
Dek Didi is Penulis tetap ikads.net. Mempunyai minat yang tinggi terhadap budaya Bali, mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan di blog ini.
Email this author | All posts by Dek Didi





saya juga sering pulang kampung ke kintamani, kampungnya istri
lumayan bolak balik juga ke Songan tuk sembahyang di Kawitan kayu selem 
[Reply]
Met Galungan.
galungan dikampung emang lebih kerasa megalungnya.
[Reply]
Iya saya juga kehilangan spirit galungan semenjak menikah dengan suami saya yang asli denpasar, klo dirumah mulai dari hari minggu sebelum galungan sudah terasa kesibukannya, belum lagi pas penampahan, karena kebetulan bapak sering potong babi utk dibagikan pada tukang kebun…hm..hm..jadi kangen suasana itu lagi….
[Reply]
wah, rumahnya jauh ya di kampung. kalo di denpasar kan bisa aku tembak utk bagi2 jootan. hehe.
met galungan kuningan, bli.
[Reply]
# Devari
Satu kampung sama istri bli. Saya juga nyungsung di Kayuselem.
#Yanuar
Untungnya punya kampung….
#Widi
Jadi gak punya kampung ya??
#Anton
Nanti saya bawakan jotan dari Songan, Mas.:)
Makasih ucapannya
[Reply]