Bali is My Life

Jele Melah Gumi Gelah

Desa Adat Pengelipuran, Mempertahankan Tradisi ditengah Ambisi Globalisasi

By Dek Didi • May 4th, 2008 • Category: Adat, Featured, Jalan-Jalan, Lingkungan

Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.

Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.

Tapi di desa kecil ini tradisi begitu kukuh dipegang oleh masyarakatnya. Terutama yang berkaitan dengan penataan pekarangan rumah. Di tengah gempuran arus modernisasi, keteguhan masyarakat Pengelipuran tampak dari rapinya penataan kawasan hunian masyarakat setempat. Memasuki desa pengelipuran laksana memasuki sebuah taman yang dibentuk dengan arsitektur maha sempurna. Jejeran rumah di sepanjang jalan berdiri rapi dengan pintu gerbang yang hampir seragam di setiap rumah. Rumah-rumah ini dibelah oleh sebuah jalan besar yang dipaping di bagian tengah dan ditamani rerumputan di pinggir kiri kanannya.

Penataan rumah dan pekarangan sangat ketat dan mengikuti ketentuan Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, Sikut Karang dan berbagai aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis lainnya. Karenanya, setiap pekarangan dan rumah di Desa Pengelipuran selalu mempunyai pola atau tatanan yang sama. Posisi paling barat ditempati oleh sebuah joli yaitu tempat tinggal utama. Dimana sebagian besar penghuni rumah tinggal disini. Juga dimanfaatkan untuk menerima tamu.

Masuk lebih dalam lagi akan dijumpai pewaregan atau dapur di bagian utara dan bale saka nem di sebelah selatan. Dapur memang berfungsi sebagai dapur dan tempat tinggal orang tua, dan kadang dipakai sebagai atempat mekemit (menyucikan diri, tapa brata) ketika seseoarng dari keluarga yang tinggal di pekarangan itu melakukan suatu ritual adat keagamaan. Sedangkan bale saka nem lebih banyak berfungsi untuk kegiatan manusa yadnya, yaitu ritual yang berkaitan dengan upacara terhadap manusia, seperti metatah dan tempat jenazah ketika salah seorang penghuni pekarangan itu meniggal dunia.

Lebih kedalam lagi dijumpai lesung di sebelah utara, berdampingan dengan lumbung di sebalah selatan. Lesung di sini ternyata diberi tempat khusus dan diberi atap. Fungsinya selain sebagai sarana untuk menumbuk padi, jagung atau bahan makanan lainnya, di sekitar lesung juga dimanfaatkan untuk mebat atau metanding ketika akan melaksanakan suatu kegiatan/ritual keagamaan. Diseberangnya berdiri lumbung yang dipakai sebagai tempat menyimpan hasil pertanian terutama gabah.

Paling ujunng atau paling timur adalah bangunan sanggah yang hamper berdampingan dengan kamar mandi. Mungkin kamar mandi merupakan hasil akulturi dari budaya modern. Karena sebelumnya masyarakat Pengelipuran lebih banyak memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan MCK-nya.

Tradisi-tradisi lainnya pada umumnya sama dengan tradisi desa adat lainnya di Bali. Mulai dari perangkat desa adat dan system pemerintahan desa adat semua hampir sama dengan system pemerintahan desa adat pada umumnya. Jika di Tenganan konon wanita Desa Tenganan tidak diijinkan kawin keluar desa Tenganan, di Pengelipuran tradisi ini tidak ada.

Semangat masyarakat disana bukan cuma nampak dari cara mereka menata pekarangannya. Mereka juga sangat aktif mempertahankan tradisi-tradisi lainnya seperti seni tabuh. Semangat ini tampak ketika saya menyaksikan sendiri anak-anak Pengelipuran yang masih berumur 5 tahunan sampai berumur belasan tahun berlatih menabuh gamelan di bale banjar setempat. Beberapa saat saya terkagum-kagum melihat jari-jari anak-anak itu begitu lincah memainkan panggul gangsa menari di atas gangsa menghasilkan tetabuhan Bali.

Kekaguman saya akan tradisi Pengelipuran dan anak-anak itu membuat saya mengcopy beberapa musik gamelan Bali yang kebetulan saya dapatkan ketika saya ngenet di sebuah warnet. Namun kekaguman itu bukannya tanpa ketakutan. Jika tidak bijak menyikapinya, lambat laun Pengelipuran akan tinggal kenangan. Berharap Pemkab Bangli dan calon Gubernur Bali bisa membuka mata terhadap masalah seperti ini. Meski kelihatannya kecil, tapi taksu Bali berada di tempat-tempat seperti Pengelipuran ini. Jika taksu Pengelipuran dan taksu tempat-tempat lainnya hilang, hilanglah taksu Bali.

Globaslisai adalah pilihan. Dan warisan budaya adalah juga titipan. Seberapa bijakkah kita?
Pengelipuran, 3 Mei 2008

Bisnis Pulsa Paling Mudah PlazaPulsa.com

Tagged as: , ,

Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi

13 Responses »

  1. penataan pekarangan di sana saya rasakan juga tidak 100% berjalan natural karena adanya campur tangan pemerintah untuk ‘mendesign’ desa tersebut biar sesuai dg nafas pariwisata. waa terakhir kesana tahun 1998 pas kerja sosial :)

  2. tapi desa ini bagus kok.. saya jarang liat desa seperti ini…

    paramarta’s last blog post..Curhat : waktu, imajinasi, dan kesadaran

  3. wah, jadi inget waktu dulu sempat juga nginep beberapa hari di penglipuran..sekarang hutan bambu di sekitarnya masih ada nggak ya, dulu juga sempat main ke desa tetangganya kayubihi yang lumayan sejuk..

    okanegara’s last blog post..Jaga Jaga Bagi Yang Muda

  4. yaa setuju bli…
    idealisme yang seharusnya dijunjung adalah bagaimana tidak hilangnya budaya yang dikarenakan harus mengikuti alur perkembangan sejarah.
    suka banget ama desa tersebut. tapi pas kesana dulu lagi sepi..
    sempet aja ngobrol dan nyelonong sama ibu2 yang lagi ngerjain kerajinan bambu.
    tapi asli seneng banget.

    Yanuar’s last blog post..Layanan Backup Blog

  5. Saya juga pernah kerja sosial kesana th 92, waktu itu masih IB Ladip Bupatinya.
    Kesan pertama yang cukup menarik adalah angkul-angkulnya yang dibuat begitu seragam dan bergaya Bali mula, mirip dengan Tenganan Karangasem.

    artana’s last blog post..Trend Minimalis Dan Structural Engineer

  6. bli…kalau di denpasar di buat tata rumahnya kayak di sana mungkin ndak?
    soalnya di dps kan lahannya sempit2 sekali?

    semoga keasrian dan kesejukannya tetap lestari……

    ick’s last blog post..“Oldmall”

  7. satu kata untuk Bangli: sejuk….

    ghozan’s last blog post..Biggest Hole

  8. Wah………saya jadi kepengen kesana (maklum belum pernah sekalipun kesana, walau sudah tahu sebelumnya)…..tapi ada yang saya tanyakan; bagaimana kalau warga Penglipuran punya Mobil, apakah mereka akan buat garase? Kalu begitu berubah donk struktur bangunannya?

    dede’s last blog post..Bale Banjar; Fungsi dan Keberadaannya Kini

  9. jadi inget waktu dulu maen kesana ama teman2 KKN,sejuk banget…

    eniwei..,desa saya juga memiliki kemiripan dengan desa penglipuran lo..

    ady gundul’s last blog post..Psikologi Golongan Darah

  10. Thanks atas infonya Dee…

    Aku kepeingin banget bisa melihat situasi tersebut scr langsung!

    Semoga suasana Desa Penglipuran, Bangli tidak berubah oleh moderenisasi.

  11. ini yg desa anti-poligami kan? jd inget waktu ke sana sama calon istri. hihihi..

    aku ambil buat balebengong ya, bli. thx..

    anton’s last blog post..Tak Perlu Bayar Karena Teman

  12. Waduh pengen kesana bro, cuman belom ada waktu, kalo dibandingin di panglipuran ternyata jauh lebih baik dari desa pekraman saya (maklum hetero), tapi ngeri juga sih idup di desa yang adatnya ketat kek gini hehehhe, soalnya udah terbiasa hidup di adat yang ngga terlalu ketat

    maap ne lagi grave digger post hehehe

    Penyu’s last blog post..Beda tag ID ama Class (html dan css)

  13. saya sebenarnya salut dengan Penglipuran, berada disana mengingatkan saya dengan rumah saya ketika masih kecil, sebelum akhirnya harus berdesakan dengan vila2

    wira’s last blog post..Searchme Visual Search

Leave a Reply