<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Bali is My Life</title>
	<atom:link href="http://bali.ikads.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bali.ikads.com</link>
	<description>Jele Melah Gumi Gelah</description>
	<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 05:21:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Selamat Datang di Dunia Blogging</title>
		<link>http://bali.ikads.com/blogging/selamat-datang-di-dunia-blogging.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/blogging/selamat-datang-di-dunia-blogging.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 13:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Postingan singkat&#8230;
Cuma mau mengucapkan selamat datang di dunia blogging buat Mr. Harry Suandana dan juga Via Maheswari.
Akhirnya berhasil memprovokasi 2 orang blogger baru. Ayo ngeblog apang sing belog!!!
Keep posting and happy blogging
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Postingan singkat&#8230;</p>
<p>Cuma mau mengucapkan selamat datang di dunia blogging buat<a title="Harry Suandana" href="http://www.harrysuandana.com" target="_blank"> Mr. Harry Suandana</a> dan juga <a title="Via-ku" href="http://blog.simplyorganizer.com" target="_blank">Via Maheswari.</a></p>
<p>Akhirnya berhasil memprovokasi 2 orang blogger baru. Ayo ngeblog apang sing belog!!!</p>
<p>Keep posting and happy blogging</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/blogging/selamat-datang-di-dunia-blogging.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Tinggi Ilmu Pembantaian (STIP)</title>
		<link>http://bali.ikads.com/hukum/sekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/hukum/sekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 16:12:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Bangsat&#8230;!!!! Mau jadi apa sih para mahasiswa ini? Udah enak-enak dibiayai negara, koq malah jadi preman???
Rasanya mulut dan perut ini tidak bisa menahan kata-kata kasar itu. Datang dari kantor sambil menunggu pesanan nasi goreng di sebuah warung makan, mata tertuju pada siaran salah satu TV swasta. Dan, kembali kisah pembantaian terhadap mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsat&#8230;!!!! Mau jadi apa sih para mahasiswa ini? Udah enak-enak dibiayai negara, koq malah jadi preman???</p>
<p>Rasanya mulut dan perut ini tidak bisa menahan kata-kata kasar itu. Datang dari kantor sambil menunggu pesanan nasi goreng di sebuah warung makan, mata tertuju pada siaran salah satu TV swasta. Dan, kembali kisah pembantaian terhadap mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi yang notabene merupakan sekolah &#8220;pemerintah&#8221;, karena sekolah tinggi macam ini biasanya menerapkan semacam ikatan kedinasan.</p>
<p>Masih sangat segar, pembantaian terhadap Taruna IPDN beberapa waktu lalu. Banyak yang miris mendengar, di sebuah sekolah tinggi, yang diagung-agungkan ternyata tidak lebih sebagai sebuah ajang pembalasan dendam antara senior terhadap senior. Tragedi kembali terjadi. Dan kembali di sebuah sekolah tinggi negara.</p>
<p>Tindakan kekerasan telah membudaya di dalam lingkungan ini. Bukan hanya di kedua sekolah di atas, di sekolah tinggi lainnya juga tidak jauh berbeda. Ada teman yang merupakan salah satu lulusans sekolah tinggi macam ini. Kekerasan fisik bukanlah hal yang tabu di dalam lingkungan sekolah ini. Budaya balas dendam senior, yang tidak mampu dilampiaskan pada senior terdahulu menyisakan benih-benih pembalasan terhadap adik kelas atau senior-seniornya.</p>
<p>Tidak heran lantas, budaya ini justru berkembang dan tumbuh subur dalam lingkungan kampus. Tradisi sudah mendarah daging. Pembalasan hanya bisa dilakukan kepada adik kelas yang dianggap lebih lemah dan tidak akan berani memberikan perlawanan, baik fisik maupun mental. Makin menjadilah preman-preman ini menjalankan arogansinya.</p>
<p>Apa sih sebenarnya yang diharapkan dari sekolah pencetak preman semacam ini? Pantas saja, korupsi atau tindakan tidak terpuji lain masih banyak terjadi dalam tatanan birokrasi dari yang kecil sampai birokrasi pusat. Lha wong yang dicetak untuk menduduki posisi-posisi strategis di pemerintahan tak lebih dari preman-preman yang dididik oleh preman pula.</p>
<p>Wahai aktivis mahasiswa, ini juga masalah sosial, bukan hanya kenaikan harga BBM yang perlu anda perhatikan. Perhatikan imbas dari ulah preman ini 15 tahun lagi. Jika saja ada 20 ribu tamatan preman ini, bayangkan 15 tahun lagi. Bagaimana bakalan tatanan birokrasi kita. Mungkin tindak kekerasan fisik akan menjadi hal yang lumrah dalam masyarakat. Mana suaramu???</p>
<p>Sudah hampir terbukti. Di sebuah kabupaten, pernah saya dengar, seorang ajudan bupati menjadi tukang onar dan biang keributan, dia adalah tamatan sekolah tinggi negara.</p>
<p>Bubarkabn saja atau tunggu saja sampai sekolah tinggi ini berubah menjadi <strong>Sekolah Tinggi Ilmu Pembantaian</strong>, atau <strong>Institut Pembantai Negara&#8230;.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/hukum/sekolah-tinggi-ilmu-pembantaian-stip.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kalpataru ditengah Rusaknya Hutan Lindung dan Alam Kintamani</title>
		<link>http://bali.ikads.com/lingkungan/kalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/lingkungan/kalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 19:33:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu, warga masyarakat Desa Buahan Kecamatan Kintamani, salah satu desa yang bertetangga dengan desaku mendapatkan penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup, Kalpataru. Antusiasme masyarakat Buahan nampak dari semangat mereka mengarak trofi Kalpataru sepanjang perjalanan dari Bangli menuju Desa Buahan. Kebanggaan terpancar dari wajah-wajah polos mereka. Guratan-guratan ketuaan di wajah bapak-bapak itu laksana lenyap tatkala mereka merasakan kegembiraan dan kebanggan mengarak trofi Kalpataru itu.</p>
<p>Wajarlah jika mereka berbangga diri. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Presiden SBY kepada salah seorang perwakilan warga Buahan. Dan, prestasi itu merupakan prestasi yang jarang bisa didapatkan oleh sebuah kelompok masyarakat. Mereka dianggap mampu melestarikan hutan lindung yang berada di sekeliling desa Buahan. </p>
<p>Desa Buahan merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam wilayah Bintang Danu Berada di antara Desa Kedisan dan Abang. Berada di sebelah selatan Danau Batur, di bawah tebing pinggiran kaldera Batur sebelah selatan. Tebing ini ditumbuhi beraneka jenis tanaman tropis yang cukup lebat. Mungkin karena mampu mempertahankan kelestarian hutan lindung di sebelah selatan dan barat desa inilah yang akhirnya mengantarkan masyarakat Desa Buahan mendapatkan penghargaan ini.</p>
<p>Jika Desa Buahan mampu membuat saya ikut merasa bangga sebagai warga Kintamani, tidak demikian halnya dengan Desa-desa lain yang juga masuk kawasan Bintang Danu. Di Batur misalnya, daerah sekitar Pura Jati yang harusnya menjadi bagian dari hutan lindung Gunung Batur kini bopeng, karena maraknya galian C dan banyaknya bangunan darurat yang dibuat masyarakat disana guna keperluan menginap hanya untuk beberapa hari ketika ada piodalan di Pura Jati.</p>
<p>Demikian pula di Songan, tidak jauh berbeda. Di Banjar Tabu, sebuah sekolah hampir nyemplung ke dasar tanah. Pinggiran sekolah sudah dikeruk habis oleh masyarakat untuk digali pasirnya. Akibatnya, sebuah sekolah menjadi korban. Toh masyarakat cuek saja. Asal masih bisa gali pasir, dan menghasilkan uang, peduli amat. Sekolah urusan pemerintah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Begitu sering saya dengar&#8230; Menyedihkan.</p>
<p>Di Trunyan, sama saja. Hutan di areal Gunung Abang tiap tahun terbakar. Entah kebakaran itu disengaja, atau tidak. Yang jelas kebakaran itu bukan saja menimbulkan dampak bagi kawasan Gunung Abang saja, tapi meluas sampai ke daerah-daerah sekitarnya. </p>
<p>Sebagian besar memang alam Kintamani, yang konon dulu merupakan kawasan wisata kaldera terindah di dunia sudah dikorbankan untuk keserakahan manusia. Semuanya memang atas nama materi. Ketika perut sudah menununtut isi, siapa yang akan peduli terhadap masalah yang akan timbul 50 tahun lagi?</p>
<p>Kebijakan pemerintah terkadang terasa aneh. Ketika alam sudah rusak parah, yang terjadi bukannya reboisasi atau upaya pembenahan, malah di sekitar Pura Jati, tanah hutan terkesan dibagi-bagi. Hutan yang harusnya menjadi penyangga kelestarian ekosistem kini beralih fungsi mnenjadi lahan pertanian. </p>
<p>Setiap kali pulang kampung, saya melihat semakin berkurang pohon-pohon tinggi itu, karang-karang sisa letusan itu yang dulu menjulang memberi pemandangan yang khas daerah pegunungan kini telah menjadi bagian dari tembok-tembok rumah.</p>
<p>Apakah ketika nanti saya punya anak dan saya ajak pulang ke Kintamani, akankah masih mendapatkan pemandangan yang indah itu???</p>
<p>Kalpataru, semoga bukan cuma penghargaan dan trofi cantik. Kintamani perlu perubahan. </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/lingkungan/kalpataru-ditengah-rusaknya-hutan-lindung-dan-alam-kintamani.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Empat Hari Menjelajah Bali (Hari Pertama)</title>
		<link>http://bali.ikads.com/featured/empat-hari-menjelajah-bali-hari-pertama.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/featured/empat-hari-menjelajah-bali-hari-pertama.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 14:39:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Ini kali pertama saya melakukan perjalanan selama empat hari penuh dan benar-benar menempatkan posisi saya sebagai seorang wisatawan atau turis. Meski saya sebenarnya bertindak sebagai pemandu wisata saat itu, tapi saya ingin larut dengan suasana tamu saya. Sebelumnya, jika saya melakukan perjalanan di seluruh Bali, saya selalu berperan sebagai pemandu wisata. Jadi tidak menikmati perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini kali pertama saya melakukan perjalanan selama empat hari penuh dan benar-benar menempatkan posisi saya sebagai seorang wisatawan atau turis. Meski saya sebenarnya bertindak sebagai pemandu wisata saat itu, tapi saya ingin larut dengan suasana tamu saya. Sebelumnya, jika saya melakukan perjalanan di seluruh Bali, saya selalu berperan sebagai pemandu wisata. Jadi tidak menikmati perjalanan sebagai mana layaknya seorang wisatawan.</p>
<p>Dan ternyata, mejelajahi Bali memang tidak ada habisnya. Waktu empat hari memang terlalu pendek untuk bisa menjelajah tempat-tempat terbaik dan atraksi-atraksi<a href="http://www.wisatabali.net/perjalanan-wisata/hari-pertama/empat-hari-menjelajah-bali-hari-pertama.htm" target="_blank"> wisata terhebat di Pulau Dewata</a>.</p>
<p>OK, kita mulai saja perjalanan kita.</p>
<p>Hari Pertama</p>
<p>Tari Barong di Batubulan<br />
Berawal dari mejmeput tamu saya di sebuah hotel bintang lima di Kuta sekitar jam 9 pagi, kami memulai perjalanan di hari pertama untuk mengujungi pertunjukan tari barong di daerah Batubulan, berada di antara perbatasan Kota Denpasar dan Kabupaten Gainyar.</p>
<p>Tari barong sebenarnya merupakan tarian yang disakralkan oleh masyarakat Hindu Bali. Tari barong merupakan salah satu tari “Bebalian”, yaitu tari pelengkap upacara keagamaan Hindu di Bali. Sedangkan tari yang memang dikhususkan sebagai sarana hiburan disebut dengan tari “Bebalihan atau Bali-balihan”.</p>
<p>Tari barong mengisahkan peperangan yang terjadi antara barong melawan rangda. Barong merupakan simbol dari kebaikan sedangkan Rangda merupakan simbol dari kejahatan. Secara simbolik tarian ini menggambarkan peperangan antara kebenaran/kebaikan melawan kejahatan, dimana akhirnya pihak kebaikan yang menang.</p>
<p>Barong Ket atau Barong Keket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan serta memiliki pebendaharaan gerak tari yang lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket ini merupakan perpaduan antara singa, macan, sapi atau boma. Badan Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, ditempel kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari perasok (serat dari daun sejenis tanaman mirip pandan), ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak.</p>
<p>Untuk menarikannya Barong ini diusung oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk / Juru Bapang, satu penari di bagian kepala dan yang lainnya di bagian pantat dan ekornya. Tari Barong Keket ini melukiskan tentang pertarungan kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma) yang merupakan paduan yang selalu berlawanan (rwa bhineda). Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.</p>
<p>Sementara, saya tidak akan utarakan urutan tariannya di sini, karena terlalu panjang. Lain waktu akan saya bahas mengenai runtutan dari tari barong ini.</p>
<p>Batik Artshop<br />
Perjalanan berlanjut mengunjungi artshop batik juga masih di daerah Batubulan. Di sini kita melihat bagaimana proses pembuatan batik, dari mulai menenun kain, melukis pola batik, menggambar batik dengan tinta khusus, sampai proses penyelesaian akhir hingga menghasilkan kain batik dengan beraneka corak dan warna. Juga dapat membeli beraneka ragam pakaian dan aksesoris berbahan dasar batik di sini.</p>
<p>Kerajinan Emas &amp; Perak Celuk<br />
Dari kerajinan batik perjalanan kami berlanjut untuk melihat kerajinan emas dan perak yang berada di daerah Celuk, cuma sekitar 10 menit ditempuh dari pusat kerajinan batik tadi. Seperti halnya kerajinan batik tadi, disini juga dapat dijumpai bagaimana proses peleburan perak menjadi perhiasan yang memukau. Dan tentu belum lengkap jika belum membeli beberapa oleh-oleh sebagai kenang-kenangan disini.</p>
<p>Belum selesai….. lanjut besok ya!! Ngantuk neh…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/featured/empat-hari-menjelajah-bali-hari-pertama.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pilah-pilah Pilih-pilih Statistik untuk Blog Anda</title>
		<link>http://bali.ikads.com/featured/statistik-untuk-blog.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/featured/statistik-untuk-blog.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 04:07:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Setalah berkelana dan berkenalan dengan berbagai web statistik dan analisis untuk beberapa website dan blog saya, akhirnya pilihan jatuh pada Woopra, sebuah aplikasi web statistik (website tracking &#38; analytics) yang meski masih dalam tahap beta version, namun mampu menawarkan berbagai kelebihan yang tidak ditawarkan oleh web tracker lain.

Secara umum memang fasilitas yang ditawarkan sama dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setalah berkelana dan berkenalan dengan berbagai web statistik dan analisis untuk beberapa website dan blog saya, akhirnya pilihan jatuh pada <a href="http://www.woopra.com" target="_self">Woopra</a>, sebuah aplikasi web statistik (website tracking &amp; analytics) yang meski masih dalam tahap beta version, namun mampu menawarkan berbagai kelebihan yang tidak ditawarkan oleh web tracker lain.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://bali.ikads.com/wp-content/uploads/2008/06/woopra.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-85" title="woopra" src="http://bali.ikads.com/wp-content/uploads/2008/06/woopra-300x218.jpg" alt="Woopra" width="419" height="304" /></a></p>
<p>Secara umum memang fasilitas yang ditawarkan sama dengan web tracker lainnya. Seperti jumlah pengujung website, keyword analisis, dan sebagainya. Yang membedakannya dan membuatnya unggul dari web tracker lainnya seperti:</p>
<p><strong>Real Time Analytics</strong><br />
Anda bisa mengawasi dan memonitor dari mana saja dan berapa orang yang sedang melihat2-lihat blog Anda. Dari mana datangnya, menggunakan kewyord apa, sedang membuka halaman yang mana, semuanya tersaji dalam satu interface yang cukup menarik</p>
<p><strong>Stand Alone Application</strong><br />
Tidak seperti kebanyakan web tracker yang lain, dimana setiap kali hendak melihat statistik website harus membuka website terlebih dahulu kemudian login untuk mengaksesnya. Dengan woopra, Anda bisa download softwarenya, install dan jadilah stand alone application, tanpa anda harus membuka browser dan login setiap anda akan melihat perkembangan wesite Anda.</p>
<p><strong>Click to Chat</strong><br />
Ini yang paling saya suka. Ketika Woopra mendeteksi ada pengunjung yang masuk ke blog Anda, anda bisa langsung mengundangnya untuk chatting.</p>
<p><strong>Wordpress Plugin</strong><br />
Kesulitan menginstallnya? Tidak lagi, karena Woopra menyediakan plugin untuk wordpress. Tinggal download, upload ke directori plugin blog anda, aktifkan, dan anda bisa segera melakukan tracking.</p>
<p><strong>Multiple Website</strong><br />
Tidak perlu banyak account untuk banyak website. Cukup satu account dan anda bisa melakukan tracking berapa pun website yang anda mau</p>
<p><strong>Gratis</strong><br />
Siapa sih yang nggak mau gratis???</p>
<p>Sedangkan yang lain saya lihat masih sama dengan website tracker pada umumnya. Untuk menjajalnya Anda bisa langsung register di <a href="http://www.woopra.com" target="_self">websitenya.</a></p>
<p>Beberapa pilihan website tracker yang mungkin bisa Anda coba juga:</p>
<p>1. <a href="http://www.google.com/analytics" target="_self">Google Analitics</a></p>
<p>2. <a href="http://www.statcounter.com" target="_self">StatCounter</a></p>
<p>3. <a href="http://www.getclicky.com" target="_blank">Get Clicky</a></p>
<p>4. <a href="http://extremetracking.com" target="_blank">Extreme Tracking</a></p>
<p>5. Dan masih banyak lagi. Coba Googling</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/featured/statistik-untuk-blog.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dan Anak Kembar Itu pun Menjadi Dewa</title>
		<link>http://bali.ikads.com/featured/dan-anak-kembar-itu-pun-menjadi-dewa.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/featured/dan-anak-kembar-itu-pun-menjadi-dewa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 09:22:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/featured/dan-anak-kembar-itu-pun-menjadi-dewa.html</guid>
		<description><![CDATA[Melahirkan anak kembar mungkin sudah menjadi berita biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tapi lain halnya dengan di Bali, dan lebih khusus di desaku. Ada satu tradisi unik di desaku yang mungkin di tempat lain tidak ada. Melahirkan anak kembar di Desa Songan dianggap sebagai suatu berkah bagi masyarakat disana.
Jika dulu ketika masa-masa feodal masih kuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Melahirkan anak kembar mungkin sudah menjadi berita biasa bagi sebagian besar masyarakat. Tapi lain halnya dengan di Bali, dan lebih khusus di desaku. Ada satu tradisi unik di desaku yang mungkin di tempat lain tidak ada. Melahirkan anak kembar di Desa Songan dianggap sebagai suatu berkah bagi masyarakat disana.</p>
<p>Jika dulu ketika masa-masa feodal masih kuat pengaruhnya di Bali, bisa jadi melahirkan anak kembar menjadi suatu bencana bagi keluarga yang mempunyai anak kembar itu. Apalagi sampai yang dilahirkan adalah anak kembar buncing (satu laki, satu perempuan), bisa-bisa si bapak dan si ibu beserta bayinya diungsikan,  karena melahirkan anak kembar dianggap suatu aib.</p>
<p>Dulu ketika sebuah keluarga biasa melahirkan anak kembar buncing dianggao merupakan suatu aib bagi desa dimana keluarga itu tinggal. Sedangkan jika anak kembar lahir di keluarga puri atau kerajaan, penafsirannya lantas berbeda. Si anak kembar dianggap memang berjodoh sejak lahir dan biasanya dibesarkan di tempat yang terpisah, hingga ketika remaja nanti dipertemukan kembali sebagai pasangan suami istri dan akan mendapat tempat yang sangat terhormat di lingkungan keluarga kerajaan.</p>
<p>Mungkin atas dasar itulah, kemudian jika ada warga masyarakat biasa  melahirkan anak kembar dianggap menyaingi keluarga kerajaan, sehingga layaklah warga yang melahirkan anak kembar buncing tadi mendapat hukuman dari sang raja. Lantas hukuman pengungsian dijatuhkan kepada si warga tadi. Biasanya warga yang melahirkan anak kembar dibuatkan tenda darurat yang biasanya berlokasi di tempat terpencil, kadang ada yang berlokasi di dekat kuburan desa dan tidak seorang pun boleh menjenguknya.</p>
<p>Mungkin setiap desa adat di Bali mempunyai cara yang berbeda dalam memperlakukan masyarakat yang melahirkan kembar.</p>
<p>Kembali ke desaku, saya masih ingat pada tahun 80-an tradisi &#8220;membuang&#8221; atau mengungsikan warga yang melahirkan anak kembar masih terjadi. Namun belakangan tradisi itu sudah tidak ada lagi. Mungkin tokoh-tokoh masyarakat di Songan sudah mempunyai awig yang baru mengenai hal ini, atau mungkin juga merujuk kepada peraturan perundang-undangan yang telah ada seperti : Bhisama PHDI tahun 1971 dan Peraturan Daerah Bali Nomor 3 Tahun 2002. Semuanya berintikan mengimbau kepada komunitas adat, terutama jajaran prajuru (pengurus desa adat), supaya menyesuaikan awig-awig-nya dengan hukum agama dan hukum yang berlaku.</p>
<p>Tapi di sisi lain ada keunikan lain yang berkaitan dengan melahirkan anak kembar ini. Jika di tempat lain di Bali dianggap sebagai suatu aib, di tempatku justru dianggap suatu berkah. Anak kembar dianggap sebagai dewa, dibuatkan pelinggih layaknya sebuah sanggah. (Kemarin, di lingkungan keluargaku habis ngeteg linggih pelinggih dewa kembar ini, dan menhgabiskan sekitar 40 juta untuk bangunannya saja.) Si kembar kemudian dipanggil dengan sebutan jero. Jika anak yang dilahirkan keduanya laki-laki, maka yang lahir duluan akan dipanggil Jero Ageng atau Jero Agung sedangkan yang lahir belakangan akan dipanggil Jero Alit. Sedangkan jika lahir laki-perempuan, yang laki dipanggil Jero Lanang dan yang perempuan dipanggil Jero Istri.</p>
<p>Setiap enam bulanan Bali (satu bulan Bali berumur 35 hari kalender), di kembar dibuatkan upacara yang bisa dibilang cukup besar. Tapi biasanya upacara ini ditanggung oleh &#8220;penyungsungnya&#8221; yaitu semua orang yang ikut urunan untuk merayakan ultah Bali si kembar ini. Yang menjadi penyungsung bukan hanya ayah dan ibu dari si kembar, tapi kadangkala meluas sampai ke semua kerabat dekat dari keluarga si kembar, bisa sampai misan, mindon bahkan lebih jauh lagi.</p>
<p>Upacara ini berlangsung terus, bahkan hingga si kembar telah meninggal dunia upcara masih terus dilangsungkan tiap bulan. Jika tidak, dianggap arwah si kembar yang dianggap dewa bisa memberi kutukan yang bisa menyengsarakan garis keturunan dan keluarga terdekatnya.</p>
<p>Saya masih belum paham betul, mengapa tradisi ini bisa terjadi. Kadang perasaan menjadi bercampur antara percaya dan tidak percaya, jadi ngikut saja, selama itu masih bukan sebuah beban bagi saya. Sayangnya saya tidak pernah melakukan penelitian mendalam tentang tradisi ini.</p>
<p>Mungkin suatu saat&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/featured/dan-anak-kembar-itu-pun-menjadi-dewa.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Percaya SMS Santet Itu&#8230;.</title>
		<link>http://bali.ikads.com/sehari-hari/jangan-percaya-sms-santet-itu.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/sehari-hari/jangan-percaya-sms-santet-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 09:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Sehari-Hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/sehari-hari/jangan-percaya-sms-santet-itu.html</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin tulisan ini sudah basi. Tapi semoga saja bisa membantu masyarakat yang kebetulan nyasar ke sini untuk mencari info SMS santet!!
Ada-ada saja ulah orang-orang jahil untuk menakuti masyarakat. Meski ada beberapa &#8220;pakar&#8221; yang kemudian menjadi &#8220;top&#8221; oleh SMS Santet itu. Emang pintar sang &#8220;pakar&#8221; memanfaatkan media yah?
Kembali ke masalah SMS santet tadi, tulisan ini bukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.detikinet.com/images/content/2008/05/12/398/ponselsantet(dalem).jpg" align="left" height="285" width="150" />Mungkin tulisan ini sudah basi. Tapi semoga saja bisa membantu masyarakat yang kebetulan nyasar ke sini untuk mencari info SMS santet!!</p>
<p>Ada-ada saja ulah orang-orang jahil untuk menakuti masyarakat. Meski ada beberapa &#8220;pakar&#8221; yang kemudian menjadi &#8220;top&#8221; oleh SMS Santet itu. Emang pintar sang &#8220;pakar&#8221; memanfaatkan media yah?</p>
<p>Kembali ke masalah SMS santet tadi, tulisan ini bukan berupaya membantu penyebaran informasi SMS santet tadi.<br />
<span id="more-82"></span></p>
<p>Gimana cara menghentikan penyebaran SMS santet tadi? Gampang, jangan pernah forward SMS sejenis kepada orang lain. Coba bayangkan, jika Anda memforwardnya kepada 10 rekan Anda, dan rekan Anda memforwardnya lagi ke 10 orang rekannya. Begitu seterusnya? Bayangkan betapa cepatnya penyebaran SMS Santent itu.</p>
<p>SMS-SMS atau email-email seperti itu biasanya dikategorikan sebagai<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hoax"> hoax.</a>  Jika dulu dijaman sebelum ada SMS dan email ada surat yang mengaku dari <a href="http://www.devari.org/2008/05/11/kedudukan-dewi-kwan-im-dalam-hindu/">Dewi Kwam In,</a> kini di jaman HP dan internet penyebaran hoax jauh menjadi lebih cepat. Kalo dulu pesan hoax mesti mampir di tangan Pak Pos, kini pesan2 hoax bisa dikirim secara instant kepada masayarakat.</p>
<p>Sebagai gambaran saja, jika Anda menerima SMS atau email yang di bawahnya berisi embel-embel, TERUSKAN PESAN INI KEPADA TEMAN2 ANDA&#8230;.. DST, isi email perlu dipertanyakan. Jangan sampai Anda dituduh penyebar HOAX gara-gara Anda meneruskan email atau SMS yang belum yakin kebenarannya.</p>
<p>Semoga bermanfaat&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/sehari-hari/jangan-percaya-sms-santet-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Desa Adat Pengelipuran, Mempertahankan Tradisi ditengah Ambisi Globalisasi</title>
		<link>http://bali.ikads.com/jalan-jalan/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/jalan-jalan/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 03:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Adat]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Jalan-Jalan]]></category>

		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<category><![CDATA[desa tradisional Bali]]></category>

		<category><![CDATA[Pengelipuran]]></category>

		<category><![CDATA[traditional village]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/jalan-jalan/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html</guid>
		<description><![CDATA[Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengelipuran hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota sejuk, Bangli, Bali sekitar 40 km dari kota Denpasar. Secara dinas Desa Pekraman Pengelipuran termasuk Kelurahan Kubu. Dihuni sekitar 200 kepala keluarga yang menempati sekitar 76 rumah keluarga atau satu rumah ditinggali sekitar 3 kepala keluarga. Kebanyakan dari mereka adalah petani. Meski sekarang sudah mulai ada yang menjadi pegawai negeri atau bekerja di sector pariwisata lainnya.</p>
<p>Pengelipuran adalah salah satu desa tradisional atau desa tua di Bali atau sering disebut Bali Aga atau Bali Mula. Merupakan salah satu tujuan wisata yang dipromosikan oleh Pemkab Bangli.</p>
<p>Tapi di desa kecil ini tradisi begitu kukuh dipegang oleh masyarakatnya. Terutama yang berkaitan dengan penataan pekarangan rumah. Di tengah gempuran arus modernisasi, keteguhan masyarakat Pengelipuran tampak dari rapinya penataan kawasan hunian masyarakat setempat. Memasuki desa pengelipuran laksana memasuki sebuah taman yang dibentuk dengan arsitektur maha sempurna. Jejeran rumah di sepanjang jalan berdiri rapi dengan pintu gerbang yang hampir seragam di setiap rumah. Rumah-rumah ini dibelah oleh sebuah jalan besar yang dipaping di bagian tengah dan ditamani rerumputan di pinggir kiri kanannya.</p>
<p><span id="more-80"></span></p>
<p>Penataan rumah dan pekarangan sangat ketat dan mengikuti ketentuan Asta Kosala-Kosali, Asta Bumi, Sikut Karang dan berbagai aturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis lainnya. Karenanya, setiap pekarangan dan rumah di Desa Pengelipuran selalu mempunyai pola atau tatanan yang sama. Posisi paling barat ditempati oleh sebuah joli yaitu tempat tinggal utama. Dimana sebagian besar penghuni rumah tinggal disini. Juga dimanfaatkan untuk menerima tamu.</p>
<p>Masuk lebih dalam lagi akan dijumpai pewaregan atau dapur di bagian utara dan bale saka nem di sebelah selatan. Dapur memang berfungsi sebagai dapur dan tempat tinggal orang tua, dan kadang dipakai sebagai atempat mekemit (menyucikan diri, tapa brata) ketika seseoarng dari keluarga yang tinggal di pekarangan itu melakukan suatu ritual adat keagamaan. Sedangkan bale saka nem lebih banyak berfungsi untuk kegiatan manusa yadnya, yaitu ritual yang berkaitan dengan upacara terhadap manusia, seperti metatah dan tempat jenazah ketika salah seorang penghuni pekarangan itu meniggal dunia.</p>
<p>Lebih kedalam lagi dijumpai lesung di sebelah utara, berdampingan dengan lumbung di sebalah selatan. Lesung di sini ternyata diberi tempat khusus dan diberi atap. Fungsinya selain sebagai sarana untuk menumbuk padi, jagung atau bahan makanan lainnya, di sekitar lesung juga dimanfaatkan untuk mebat atau metanding ketika akan melaksanakan suatu kegiatan/ritual keagamaan. Diseberangnya berdiri lumbung yang dipakai sebagai tempat menyimpan hasil pertanian terutama gabah.</p>
<p>Paling ujunng atau paling timur adalah bangunan sanggah yang hamper berdampingan dengan kamar mandi. Mungkin kamar mandi merupakan hasil akulturi dari budaya modern. Karena sebelumnya masyarakat Pengelipuran lebih banyak memanfaatkan aliran sungai untuk kebutuhan MCK-nya.</p>
<p>Tradisi-tradisi lainnya pada umumnya sama dengan tradisi desa adat lainnya di Bali. Mulai dari perangkat desa adat dan system pemerintahan desa adat semua hampir sama dengan system pemerintahan desa adat pada umumnya. Jika di Tenganan konon wanita Desa Tenganan tidak diijinkan kawin keluar desa Tenganan, di Pengelipuran tradisi ini tidak ada.</p>
<p>Semangat masyarakat disana bukan cuma nampak dari cara mereka menata pekarangannya. Mereka juga sangat aktif mempertahankan tradisi-tradisi lainnya seperti seni tabuh. Semangat ini tampak ketika saya menyaksikan sendiri anak-anak Pengelipuran yang masih berumur 5 tahunan sampai berumur belasan tahun berlatih menabuh gamelan di bale banjar setempat. Beberapa saat saya terkagum-kagum melihat jari-jari anak-anak itu begitu lincah memainkan panggul gangsa menari di atas gangsa menghasilkan tetabuhan Bali.</p>
<p>Kekaguman saya akan tradisi Pengelipuran dan anak-anak itu membuat saya mengcopy beberapa musik gamelan Bali yang kebetulan saya dapatkan ketika saya ngenet di sebuah warnet. Namun kekaguman itu bukannya tanpa ketakutan.  Jika tidak bijak menyikapinya, lambat laun Pengelipuran akan tinggal kenangan. Berharap Pemkab Bangli dan calon Gubernur Bali bisa membuka mata terhadap masalah seperti ini. Meski kelihatannya kecil, tapi taksu Bali berada di tempat-tempat seperti Pengelipuran ini. Jika taksu Pengelipuran dan taksu tempat-tempat lainnya hilang, hilanglah taksu Bali.</p>
<p>Globaslisai adalah pilihan. Dan warisan budaya adalah juga titipan. Seberapa bijakkah kita?<br />
Pengelipuran, 3 Mei 2008</p>
<p><a href="http://Go-Vnet.Com/?id=ksuarya" target="_blank"><img src="http://plazapulsa.com/banner/plazapulsa4.gif" alt="Bisnis Pulsa Paling Mudah PlazaPulsa.com" height="60" width="468" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/jalan-jalan/desa-adat-pengelipuran-mempertahankan-tradisi-ditengah-ambisi-globalisasi.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Di, Kamu Ultah 3 Kali Setahun Dong?</title>
		<link>http://bali.ikads.com/life-story/di-kamu-ultah-3-kali-setahun-dong.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/life-story/di-kamu-ultah-3-kali-setahun-dong.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 03:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Adat]]></category>

		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Life Story]]></category>

		<category><![CDATA[Sehari-Hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/life-story/di-kamu-ultah-3-kali-setahun-dong.html</guid>
		<description><![CDATA[Wow, berarti kamu ultah 3 kali dalam setahun dong?  Kira-kira sejenis itu ungkapan yang biasa saya terima dari rekan-rekan kerja yang terutama berasal dari luar Bali. Ungkapan di atas muncul ketika biasanya saya permisi pulang lebih dahulu dari kantor karena harus pulang lebih awal untuk otonan. Otonan adalah ritual ulang tahun masyarakat Bali*) yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wow, berarti kamu ultah 3 kali dalam setahun dong?  Kira-kira sejenis itu ungkapan yang biasa saya terima dari rekan-rekan kerja yang terutama berasal dari luar Bali. Ungkapan di atas muncul ketika biasanya saya permisi pulang lebih dahulu dari kantor karena harus pulang lebih awal untuk <em>otonan. Otonan </em>adalah ritual ulang tahun masyarakat Bali*) yang datang setiap 6 bulan sekali.</p>
<p><span id="more-79"></span>Datangnya otononan mengkuti siklus Sapta Wara dan Panca Wara serta siklus pawukon. Sapta Wara berumur 7 hari terdiri dari (Radite, Soma, Anggara, Buda, Wrespati, Sukra, Saniscara) dan sama dengan perhitungan Kalender Masehi namun mempunyai nama yang berbeda. Panca Wara berumur 5 hari yang terdiri dari Umanis, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.  Sedangkan pawukon berjumlah 30 wuku dan masing-masing wuku itu berumur 7 hari. Jadi satu wuku datang setiap 210 hari sekali.</p>
<p>Perhitungan <em>otonan</em>, sama halnya dengan perhitungan Galungan, Kuningan, Saraswati Tumpek dan hari raya lainnya, yaitu setiap 210 hari sekali. Misalnya, Buda Pahing Landep. Sapta wara = Budha, Panca Wara = Pahing, Wuku = Landep. Budha Pahing Landep ini datangnya pasti setiap 210 hari sekali. Masih ingat pelajaran KPK jaman SD dulu kan? Nah begitulah perhitungannya. Hari-hari penting Hindu yang berdasarkan <em>wewaran</em> dan <em>pawukon**)</em> juga seperti itu perhitungannya.***)</p>
<p>Di samping perhitungan hari Raya berdasarkan wewaran dan pawukon, ada juga perhitungan hari raya berdasarkan Sasih. Perhitungan berdasarkan sasih ini biasanya memakai patokan bulan purnama dan bulan mati. (Tileming Sasih ke&#8230; atau Purnamaning sasih ke&#8230;) Satu sasih berumur 30 hari yang terdiri satu kali purnama dan satu kali tilem.</p>
<p>Masih ada beberapa lagi cara dan siklus  perhitungan hari yang dipakai  masyarakat Bali. Namun secara umum yang dipakai adalah perhitungan berdasarkan sasih dan pwukon di atas.</p>
<p>Nah, sekarang kebayang kan kenapa saya bisa ulang tahun 3 kali dalam setahun? Dua kali <em>otonan</em> dan 1 kali ulang tahun Masehi.</p>
<p>Catatan:</p>
<p>*) mungkin setiap desa mempunyai cara merayakan dan tradisi berbeda mengenai otonan ini, tetapi secara umum masyarakat Bali mengenal konsep otonan ini.</p>
<p>**)wewaran berasal dari kata wara dan pawukon berasal dari kata wuku</p>
<p>**) silakan berkunjung ke situs BabadBali.com untuk lebih banyak tentang <em>wewaran</em> dan <em>pawukon</em> ini</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><a href="http://www.wisatabali.net/tempat-wisata/bangli/kintamani-pesona-gunung-dan-danau-batur.htm" target="_blank">WisataBali.Net</a>, media penyedia informasi wisata Bali</p>
<p><script language='JavaScript' type='text/javascript' src='http://ikads.com/ads/adx.js'></script><br />
<script language='JavaScript' type='text/javascript'>
<!--
   if (!document.phpAds_used) document.phpAds_used = ',';
   phpAds_random = new String (Math.random()); phpAds_random = phpAds_random.substring(2,11);</p>
<p>   document.write ("<" + "script language='JavaScript' type='text/javascript' src='");
   document.write ("http://ikads.com/ads/adjs.php?n=" + phpAds_random);
   document.write ("&amp;what=zone:1");
   document.write ("&amp;exclude=" + document.phpAds_used);
   if (document.referrer)
      document.write ("&amp;referer=" + escape(document.referrer));
   document.write ("'><" + "/script>&#8220;);
//&#8211;>
</script><noscript><a href='http://ikads.com/ads/adclick.php?n=a85eb015' target='_blank'><img src='http://ikads.com/ads/adview.php?what=zone:1&amp;n=a85eb015' border='0' alt=''></a></noscript></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/life-story/di-kamu-ultah-3-kali-setahun-dong.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Warung Babi Guling Men Suka</title>
		<link>http://bali.ikads.com/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html</link>
		<comments>http://bali.ikads.com/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Apr 2008 06:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dek Didi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bali.ikads.com/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html</guid>
		<description><![CDATA[Kalo tidak membawa bekal ke kantor biasanya saya makan siang di Tiara Food Court. Selain pilihan menunya banyak, harga yang murah juga menjadi pertimbangan.  Kalau lagi bosan makan di Tiara, biasanya nyari warung terdekat dari kantor, namanya Warung Babi Guling Men Suka. Menunya, ya tentu saja nasi plus babi guling. Tidak ada menu lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalo tidak membawa bekal ke kantor biasanya saya makan siang di Tiara Food Court. Selain pilihan menunya banyak, harga yang murah juga menjadi pertimbangan.  Kalau lagi bosan makan di Tiara, biasanya nyari warung terdekat dari kantor, namanya Warung Babi Guling Men Suka. Menunya, ya tentu saja nasi plus babi guling. Tidak ada menu lainnya. Tempatnya tidak besar, karyawannya tidak banyak, belum pakai PDA untuk melayani order tamu. Toh, orang yang makan disana selalu banyak. Bahkan banyak pula wisatawan (mungkin Jepang atau Korea) atau turis lokal yang sedang <a href="http://www.wisatabali.net/tempat-wisata/bangli/kintamani-pesona-gunung-dan-danau-batur.htm" target="_blank">berwisata di Bali</a> yang makan disana.<br />
<span id="more-77"></span>Tapi sekarang saya tidak mau membanding-bandingkan antara Warung Nasi Be Guling Men Suka dengan McD atau jejeran restoran di sepanjang Jalan Laksmana, atau D&#8217;Cost dengan mutu bintang lima harga kaki limanya.<br />
Sekedar iseng, ternyata pengunjung blog saya tercinta ini ternyata kebanyakan datang dengan keyword yang mengandung &#8220;masakan tradisional Bali&#8221;. Di bawah ini adalah potongan screenshoot statistik keyword pengujung website ini hari ini.</p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p><img src="http://bali.ikads.com/wp-content/uploads/2008/04/stat.jpg" alt="stat.jpg" /></p>
<p><em>*ups ada juga keyword yang aneh masuk ke situ </em></p>
<p>Jadi terpikirkan juga pada satu kesimpulan, ternyata warung tradisional makin terjepit di tengah arus konsumerisme. Banyak sekali Men Suka yang lainnya yang masih bertahan dengan warung tradisional dengan menu tradisional Bali.  Padahal jika dilihat dari statistik keyword di atas, ternyata yang orang cari bukanlah McD atau KFC. Yang mereka cari makanan khas Bali, dengan cita rasa Bali, bukan makanan import.</p>
<p>Warung Men Suka mungkin salah satu warung tradisional yang agak rame. Tidak sedikit warung sejenis yang mulai kehilangan pembeli. Karena lahannya telah diserobot oleh restoran atau rumah makan yang lebih wah, atau mati pelan-pelan karena tidak mampu lagi membeli sekedar bumbu untuk keperluan racikan masakannya. Menyedihkan&#8230;</p>
<p>Saya tidak tahu, siapa yang seharusnya mempertahankan masakan  tradisional ini. Apa campur tangan pemerintah diperlukan untuk itu. Sayangnya pula, lidah kita sudah terlalu banyak dipengaruhi oleh citarasa makanan import. Apalagi anak-anak. Dijamin, ketika anak disuruh memilih ayam goreng KFC apa masakan babi guling  khas Bali, mereka akan memilih ayam goreng.</p>
<p>Semoga Men Suka tidak lekas menutup warung makan Babi Gulingnya&#8230;.</p>
<p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bali.ikads.com/kuliner/warung-babi-guling-men-suka.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
