Partai Hindu, Nafsu Kuasa atau Dharma Agama?
By Dek Didi • Feb 5th, 2008 • Category: Agama, PolitikMelihat perkembangan perpartaian di Indonesia, nampaknya menggugah semangat beberapa politikus Hindu untuk mendirikan partai. Namanya PARTAI KEBANGKITAN DHARMA INDONESIA. Sudah pada mendengar partai baru ini? Partai ini didirikan Drs. Ngurah Arya Ps, MComm (Hons), Phd.D, Ak, seorang lulusan UGM putra Bali yang mempunyai beberapa sekolah dan universitas.
Menurut Ida Pedanda Sebali Tianyar Arimbawa, Ketua Dharma Adyaksa Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat sepantasnya PHDI sebagai lembaga tertinggi umat Hindu dan masyarakat Hindu memberikan dukungan dan merestui berdirinya partai ini.
Memang, politik seolah menjadi kebutuhan dasar terutama bagi warga negara yang menginginkan kekuasaan. Sedangkan bagi masyarakat biasa, apa partai politik punya arti yang seistimewa para pemimpi kekuasaan?
Partai politik tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan. Seorang penguasa harusnya merupakan jelmaan dari keinginan mayoritas masyarakat pendukungnya. Dalam Hindu, seorang pemimpin atau penguasa hendaknya berjalan dalam koridor Asta Brata. Asta berarti delapan dan Brata bisa diartikan sebagai sifat mulia dari alam semesta.
Kedelapan koridor kepemimpinan Hindu itu adalah:
1. INDRA BRATA, yaitu seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan.
2. YAMA BRATA, Seorang pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
3. SURYA BRATA, pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (Surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
4. CANDRA BRATA, Yaitu seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Bulan (Candra) yang mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan, dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup dengan nyaman.
5. WAYU BRATA (Maruta), yang berarti angin. Seorang pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke masyarakat untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat yang dipimpinnya.
6. BHUMI BRATA. Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat utama dari bumi yaitu teguh dan kuat sebagai landasan berpijak dan memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya.
7. WARUNA BRATA, seorang pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
8. AGNI BRATA, Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong/ memberi semangat kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak dengan tegas yang bersalah tanpa pilih kasih serta mambrantas/menghanguskan semua yang menjadi musuh pemerintah baik yang datangnya dari luar maupun dari dalam negeri itu sendiri.
Jika seorang pemimpin Hindu bisa menempatkan Asta Brata itu sebagai landasan berpolitiknya, sepertinya bisa diterima eksistensi partai yang bernuansa Hindu ini. Namun, jika partai ini tidak berbeda dengan partai-partai lainnya, hanya memberikan janji-janji kosong menjelang pemilu, apa masih pantas ada partai baru. Entah partai yang bernuansa agama atau nuansa lainnya.
Pada kenyataannya, kebanyakan partai merupakan jelmaan dari nafsu berkuasa para politikus haus kekuasaan. Boleh-boleh saja para pendiri partai mengklaim akan kesejahteraan masyarakat tapi setelah pemilu, janji itu hendaknya masih tetap dipegang.
Kita lihat saja, bagaimana kiprahnya partai-partai baru ini. Kalau masih sama, mending jangan ada partai-partaian lagi. Mungkin dunia lebih indah tanpa partai. Kecuali partai ini memang mampu memberikan nuansa demokrasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dek Didi is
Email this author | All posts by Dek Didi







susah rasanya menerapkan asta brata di zaman kali ini. partai dan visi/misinya sebenarnya OK cuman orang2 didalamnya yang seringkali tidak sejalan dengan tujuan mulia diawal
Klo saya pribadi kok ga setuju klo partai bawa nama agama ya, soalnya banyak kejadian ketika sebagian kecil individu dalam partai berbuat salah atau mengambil keputusan yang salah (sereligius apapun orang itu tidak luput dari kesalahan) yang dicap ga bener oleh masyarkat umum adalah agama yang dibawa ideologinya dalam partai tersebut, mungkin kita perlu berkaca bagaimana para kyai NU yang ribut2 karena dipecah2 oleh partai yang mepunyai Ideologi/aliran NU
#devari
Di jaman kali ini memang manusia sudah dirasuki kala mungkin. Jadi agama juga dipakai kedok untuk mendapatkan kekuasaan
#widi
saya juga kurang sepaham dengan partai yang berideologikan agama. yang timbul bukan demokrasi tapi sikap chauvinimisme yang berlebih.
Semangat untuk “membangkitkan dharma” sebagaimana diatur dalam ajaran Hindu Dharma, perlu kita dukung dan hal ini merupakan salah satu langkah yang baik yang mungkin bisa menyadarkan masyarakat Indonesia akan nilai-nilai dharma, kebaikan, kedamaian dan kesucian.
Pelaksanaaan “membangkitkan nilai dharma melalui media Partai, dengan membangun Partai yang berdasarkan nilai-nilai Hindu Dharma merupakan langkah yang tepat. Karena hanya melalui partai politik lah saat ini bisa menghasilkan pemimpin-peminpin baik dari tingkat kabupaten sampai presiden di negara ini karena calon independent masih dalam perdebatan atau belum diatur undang-undang. Jadi apabila partai berediologi Hindu ini lolos peripikasi dan dapat sebagai partai perserta pemilu maka diharapkan akan banyak kader partai hindu ini akan bisa mencalonkan diri sebagai calon pemimpin dan selanjutnya sangat diharapkan pula para pemimpin dari partai hindu ini akan menerapkan Asta Berata dan nilai-nilai Hindu Dharma yang lain.
Semoga dunia menjadi lebih damai…damai…damai…
Menurut saya juga belum pas waktunya untuk ada partai Hindu. Disamping alasan Bli Kadek diatas,apakah partai ini bisa survive nantinya? Jangan-jangan jadi partai sesaat saja, trus hilang karena nggak bisa mencapai target suara dalam pemilu. Berapa persenkah penduduk Hindu di Indonesia?
Saya pikir sebaiknya yang perlu dilakukan sebelumnya adalah membangun Hindu itu sendiri, membuat pondasi yang tangguh untuk dapat diperhitungkan keberadaannya.
You’re Invited
Seperti kita ketahui bahwa konsep politik itu ada beberapa seperti:
1. Negara (state)
2. Kekuasaan (power)
3. Pengambilan keputusan (decision making)
4. Kebijaksanaan (policy)
5. Pembagian (distribution) atau alokasi (allocation)
(Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik).
Kalau kita lihat kelima konsep itu merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen dan kepentingan. Tentu kekuasaan yang melahirkan rezim pada negara (organisasi). Dalam konteks hari ini, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan kekuasaan adalah melalui partai politik. Tidak mungkin mendirikan parpol dan tidak ‘merebut’ kekuasaan. Atau ada partai pasti untuk mengambil kekuasaan. Karena dengan kekuasaan itu, cita-cita partai/ individu dapat didistribusikan/ dilaksanakan kepada warganya. Dengan kekuasaan itulah kebijaksanaan dan keputusan diambil.
Saya rasa disanalah proses kebijaksanaan sebaiknya mengacu kepada asta brata tadi.
Sepakat bahwa personal partai harus mengacu
kepada ajaran itu dan tidak hanya mengejar kekuasaan saja dan meninggalkan visi misinya hanya untuk kepentingan diri maupun kelompok…
Terimakasih…
Jika dinilai secara dikotomis, adalah suatu hal yang kontradiktif relasi antara diskursus kepartaian dengan konsepsi Transendentalnya Agama. Namun yang perlu diingat partai politik prinsipnya adalah wahana yang mengakomodir strategi-taktik untuk diabdikan pada pencapaian tertentu. Jika terdapat Partai Politik yang menjadikan konsepsi Sanatha Dharma sebagai fundamen bagi konstruksi Ideologinya.
Maka adalah yang pasti, jika Partai Politik dengan strategi-taktik yang terakomodir di dalamnya akan menjadikan cita-cita Kehinduan sebagai capaian politiknya. Terkecuali jika kita melihat secara parsial, maka yang muncul sebagai kesimpulan adalah terdapatnya kontradiksi antara praktek berpartai dengan konsepsi keagamaan. Bli Sudhana, kenken kabare? Aku cukup sepakat dengan analisa bli. Karena sekali lagi yang harus jadi materi analisa berikut pula evaluasi, adalah keseluruhan proses. jadi bukan hanya hasil akhirnya ( ini yang aku maksud sebagai parsial). Apalagi, jika konklusi dari analisa tertentu dihasilkan karena keterjebakan kita dengan fenomena yang berkembang saja, tanpa memahami secara utuh anatomi persoalannya.
Seperti diskursus Partai Politik yang terbagun atas fundamen Ideologi Kehinduan, akan muncul beragam kontroversi dari banyak kalangan. Karena mencoba sekedar melakukan komparasi secara - sekali lagi - secara parsial dengan fenomena praksis dalam konteks kepartaian di Negeri kita yang belum sepenuhnya merdeka ini. Sekarang hal yang harus kita diskusikan adalah platform serta paradigma jenis apa yang akan di usung oleh partaii baru ini. Apakah akan justru membentuk struktur sosiologis Agama Hindu yang eksklusif lagi, yang mentansformasi Hindu menjadi ajaran yang Intoleran dengan perbedaan? Apakah hanya skedar manifestasi dari kepentingan eksklusif individual, yang sejatinya makin memperlebar jurang kaya-miskin, polarisasi elit-populis? Atau memang Murni memeprjuangkan secara politik, penegakan Agama HIndu sebagai Aparattus dari DHARMA? Menurut Aku beberapa hal tersebut yang harus kita analisa secara kritis, dengan skeptisisme yang tinggi, dan bukan berangkat dari purbasangka tanpa basis rasionalitas uang memadai.Tidak berguna jika kita menyimpulkan dengan tergesa hanya karena mencoba sekedar melakukan komparasi secara - sekali lagi - secara parsial dengan fenomena praksis dalam konteks kepartaian di Negeri kita yang belum sepenuhnya merdeka ini. Untuk bli Sudhane, Umat Hindhu Lampung memerlukan bli segera. Satyam Eva Jayate!!!
Banyak pihak yang beranggapan bahwa politik adalah kotor karena politik selalu diidentikkan dengan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala cara. Akan tetapi, Hindu memandang politik tidak semata-mata sebagai cara mencari, dan mempertahankan kekuasaan, melainkan adalah bagi penegakkan Dharma. Hal ini banyak dijelaskan dalam percakapan antara Bhagawan Bhisma dengan Yudhistira pasca perang Bharatayudha, yaitu dalam Santi Parwal LXIII, hal 147, sebagai berikut:
“manakala politik telah sirna, veda pun sirna pula, semua aturan hidup hilang musnah, semua kewajiban manusia terabaikan. Pada politiklah semua berlindung. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan, pada politikiah semua pengetahuan dipersatukan, pada politiklah semua dunia terpusatkan”.
Dalam bab yang lain dijelaskan pula bahwa:
“ketika tujuan hidup manusia - dharma, artha, kama, dan moksa semakin jauh. Begitu juga pembagian masyarakat semakin kacau, maka pada politikiah semua berlindung, pada politiklah semua kegiatan agama/yajna diikatkan, pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan, dan pada politiklah dunia terpusatkan”
Untaian kalimat dalam Santiparwa tersebut mengisyaratkan bahwa antara Politik dan Agama mempunyai kaitan yang sangat erat, yaitu politik Hindu adalah untuk menjalankan dan menegakkan ajaran Dharma. Dharma adalah hukum, kewajiban, dan kebenaran yang apabila dilanggar maka akan berakibat pada kehancuran umat manusia, dan sebaliknya dharma yang dijaga akan membawa kemuliaan (dharma raksatah raksitah).
Antara politik dan kepemimpinan merupakan sebuah mata uang yang tak dapat dipisahkan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memberikan tauladan, selalu mengusahakan kesejahteraan rakyat (sukanikang rat), dan menghindari kesenangan pribadi (agawe sukaning awak). Dalam Kautilya Arthasastra dijelaskan pula bahwa “apa yang menjadikan raja senang bukanlah kesejahteraan, tetapi yang membuat rakyat sejahtera itulah kesenangan seorang raja”. Kalimat ini menunjukkan bahwa sasaran pokok dalam politik Hindu adalah kebahagiaan rakyat, bukanlah kesejahteraan penguasanya karena penguasa yang berhasil membawa rakyatnya pada kebahagiaan tertinggi, kemuliaan adalah pasti (”sang sura menanging ranaggana, mamukti sukha wibawa, bogha wiryawan”).
dikutip dari
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=304&Itemid=29
Oleh:Prof. DR. Ida Bagus Gunada, M.Si
Agama dan politik……sepertinya dua kata tersebut sudah memiliki tujuan dan sasaran yang berbeda. Agama bertujuan untuk membawa manusia semakin memaknai arti hidup dan semakin dekat dengan penciptanya. memiliki sifat-sifat ketuhanan, sehingga zaman kertha itu bisa kita rasakan kembali.
Sementara itu politik. Secara kasat mata dia cuma sebagai alat kekuasaan. Orang yang pendalaman ajaran agama bagus tidak ingin lagi kemasyuran politik. Karena itu adalah salah satu dari kegelapan dunia. Coba saja lihat di masyarakat. Apakah yang mereka dapatkan setelah mati-matian membela partainya(bahkan menang sampai 100%), jalan-jalannya tetap rusak, jajni-janji palsu.
Kalaupun ada yang bikin partai agama, ingaaaaaaat…………..
kalau anda salah baik pikiran, perkataan, perbuatan. akan mencoreng jati diri kita sebagai umat hindhu secara keseluruhan. Ingat aduk sero aji keteng.
Maju terus generasi hindu……………………………….g o o d ……………..l u c k