Nikmatnya Lagu-lagu The Patriots

Setelah beberapa bulan lalu sempat jatuh cinta sama band Animo, kini setelah dapat undangan conference dari teman lewat YM, akhirnya menemukan sebuah link yang berisi lagu2 The Patriots.

Lagu2nya keren abis. Sepertinya The Patriot harus bersiap-siap menjadi salah satu band yang bakalan populer. Saya bukan pengamat musik, tapi saya menikmati musik. Dari semua lagunya, liriknya bagus, mudah diikuti, dan apa lagi ya???

Pokoknya dengerin aja. Dijamin gak bakal nyesel. Ini bukan review koq, tapi sebuah ungkapan terhadap sebuah karya yang enak didengar.

Baca juga reviewnya disini:

http://www.baladika.info/2007/10/06/the-partriots-band-yang-segera-meroket/

http://www.tembang.com/info_detail.asp?id=3151&kategori=news

Dan masih banyak lagi. Selengkapnya disini

http://www.google.co.id/search?q=the+patriots+bali&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a

Thanks God, Akhir Tahun yang Sibuk…

Akhirnya, setelah hampir sebulan sibuk dengan kerjaan, bisa kembali posting disini. Akhir tahun memang kadang selalu membawa kesibukan. Jika dulu ketika masih bekerja di perusahaan, akhir tahun biasanya dikejar deadline laporan tahunan.

Kini, pola kerja itu berubah. Jika dulu dikejar-kejar pekerjaan, sekarang mengejar-ngejar pekerjaan, untuk nutup lubang hutang disana-sini. Jika tidak, hutang bisa membengkak. Maklum semuanya masih serba nyicil. Hehehehehe.

Akhir tahun ini boleh jadi merupakan akhir tahun yang paling sibuk. Kerjaan numpuk, sampai bagi waktu dan manajemen kerjaan menjadi berantakan, semuanya harus didahulukan. Otomatis manajemen kerja  kacau, padahal aslinya memang gak bisa memanage kerjaan, meski tidak sibuk.

Mulai dari beberapa kerjaan website pesanan klien, bantu-bantu Novi ngurus EOnya. Persiapan selama sebulan untuk launching produk SMART di Singaraja dan Tabanan terasa kurang. Meski jauh-jauh hari sudah mempersiapkan segala keperluan event ini, last minute masih saja ada masalah. Masalah yang paling sering terjadi adalah budaya masyarakat Indonesia, tidak tepat waktu. Duh, kapan ya budaya ini bisa berubah???

Hmmmm, banyak hal yang tidak bisa ikut. Mulai dari main futsal bersama, liburan akhir tahun di Nusa Lembongan bersama BBC, Mejaya-jaya pengurus Paiketan Warga Arya Wang Bang Pinatih. Banyak moment-moment menarik pastinya bakal terlewatkan.

Tapi, akhir tahun ini memberikan pelajaran, betapa pentingnya membagi waktu untuk kerjaan, delegasi pekerjaan kepada orang lain, kerja sama dalam tim dan menghadapi komplain dari klien. Semuanya memberikan pelajaran yang berharga.

Selamat Natal & Tahun Baru.

Selamat berlibur buat semua. Dan untuk rekan-rekan BBC yang mau liburan di Nusa Lembongan, selamat berlibur dan bakti sosial. Semoga semuanya bisa berjalan lancar sesuai rencana. Sayang belum bisa memberikan door prize seperti Mas Hendra

4,5 Juta Unique Visitor dalam 5 Hari

Website ini memang luar biasa. Dalam waktu 5 hari saja sudah dikunjungi sebanyak 4,5 juta kali.
Sampai saat ini sudah ada 46,340,771 sepatu yang melayang ke wajahnya George W. Bush.
Benar-benar sebuah website yang luar biasa.
Website ini hanyalah sebuah website game, dimana visitor bisa melempar sepatu ke wajah George W. Bush, yang terinspirasi dari lemparan sepatu yang dilakukan oleh salah seorang reporter ke wajah Bush di Irak beberapa waktu lalu.
Mau mencoba?? http://www.sockandawe.com

——–
* Cuma catatan untuk beberapa hal unik di sekitar….

Indahnya Sebuah Terima Kasih

Barangkali hampir setiap hari kita menerima ucapan terima kasih. Dari sodara, pasangan, teman, dan yang lainnya. Tapi pernahkah anda merasakan dan menerima ucapan terima kasih yang sangat indah??

Begini, beberapa hari yang lalu saya berencana berangkat ke kantor salah satu klien untuk presentasi. Di perjalanan, saya lihat jarum penunjuk minyak di motor mendekati huruf E, artinya beberapa ratus meter lagi motor saya tidak bisa jalan karena kekurangan bensin. Saya melewati sebuah pompa bensin, rame…Akhirnya terlewatkan beberapa ratus meter. Dan benar saja, motor saya mulai tersendat-sendat.

Panik, pompa bensin berikutnya masih beberapa kilometer lagi. Tiada pilihan lain, selain membeli bensin eceran di “pertamini” alias kios bensin kecil yang dikemas dalam botol-botol kecil berisi satu liter di pinggir jalan. Beruntunglah, cuma beberapa puluh meter akhirnya saya temukan sebuah pertamini. Saya parkir motor, turun di depan kios bensin itu. Celingak-celinguk, karena tidak ada orang yang menjaga kios itu. Nunggu beberapa menit, sambil melihat seorang kakek yang sudah cukup renta mengaduk semen. Di sebelahnya tampak sebuah bangunan baru semacam toko. Ketika si kakek melihat saya celingukan di depan kios bensin, beliau kemudian menghampiri saya.

Dengan suara gemetar dan tubuh penuh keringat, si kakek bertanya “Gus, kuangan bensin?”
“Nggih, kak” saya jawab. “Kak ngadol bensin?” saya lanjutkan.

Tanpa menjawab, dengan tangan gemetar, kakek mengambil sebotol bensin. Tangan kirinya mengambil saringan bensin.

Saya buka sadel, buka tutup tangki, dan masih dengan tangan gemetar selanjutnya si kakek menuangkan bensin itu ke tangki motor saya. Melihat tangan yang gemetar itu, saya ambil alih botolnya dan saya tuangkan sendiri bensin ke tangki motor saya.

Selesai, si kakek menaruh botol dan saringannya, saya ambil dompet. Mengeluarkan 50 ribuan untuk membayar bensin. Si kakek terkejut saya sodori 50 ribuan. “Ten wenten jinah alit, gus?” tanyanya.”Ten wenten, kak” saya jawab.

Kemudian, dia mengambil bungkusan plastik dari saku lusuhnya, ternyata isinya uang. Puluhan uang seribuan dikeluarkan dari bungkus plastik itu.  Ternyata kakek sudah tidak pandai matematika, mungkin karena sudah pikun. Dihitung-hitung, ternyata semua uang di dalam plastik tidak mencukupi sebagai kembalian uang 50 ribuan tadi. Saya putuskan menambah 1 liter bensin lagi. Tetap, masih kurang 5000 rupiah. Si kakek bilang mau nukar uang saya di warung seberang jalan.

Saya berpikir, jalan rame begini si kakek harus nyeberang jalan. Ah nggak usahlah saya minta kembalian 5000 tadi. Sebenarnya si kakek masih ngotot ingin menukar uang, tapi karena saya juga ngotot tidak usah dikembalikan, akhirnya beliau tidak jadi menukar uang. Dengan suara tuanya serasa berbisik mengucapkan “Terima kasih, gus”.

Saya tidak jawab, tapi saya balik tanya-tanya. Dari situ saya tahu, ternyata sambil nunggu kios bensinnya, beliau sambil meburuh ngaduk semen untuk bangunan yang disebutkan tadi. Karena tidak mampu bekerja seberapa, beliau cuma digaji paling banyak 10 ribu per hari dari pekerjaan ngaduk semen tadi.

Si kakek bercerita banyak, karena anaknya tidak ada yang menjadi pegawai negeri (khayalan khas para pengelingsir), semuanya hanya menjadi tukang tajen. Kebutuhan rumah tangganya masih juga dipikul oleh beliau. Kadang-kadang cucunya juga masih minta uang darinya. Bukan untuk biaya sekolah, tapi untuk preteli motor, kemudian gabung jadi geng motor, kebut-kebutan atau untuk nongkrong dan mabuk di depan Circle-K.

Di akhir pembicaraan, si kakek berulangkali mengucapkan terima kasih. Terakhir sebelum saya menghidupkan mesin motor beliau mengucapkan, “Dumogi manggihin sane pinih becik, gus”

Sungguh tragis, serasa mau meloncat keluar air mata saya mendengar cerita si kakek. Di usianya yang sudah sedemikian tua, tanggung jawabnya masih sedemikian besar. Dengan memakai baju salah satu mantan calon gubernur (mungkin tidak pernah terpikir untuk membeli baju baru demi dedikasinya bagi keluarganya), beliau masuh membanting tulang. Meski untuk berdiri saja sudah gemetar, tapi demi kelangsungan hidup keluarganya, rela memegang cangkul ngaduk semen meski hasil tidak seberapa.

Saya tidak ingin tau lebih banyak bagaimana perlikau anak-anak atau cucu-cucu si kakek. Saya cuma merasakan bahwa ucapan terima kasih saat itu adalah salah satu ucapan terima kasih yang paling indah yang saya terima. Bukan sekedar sebuah nilai uang yang saya berikan lantas si kakek mengucapkan terima kasih. Tapi dari tatapan mata dan nada suara, terasa ketulusan dan kepasarahan hidup sang kakek.

Pengabdian untuk sang diri, semangat untuk keluarganya. Sayang, semangat itu hanya milik sang kakek, tanpa diikuti oleh semangat anak-anak dan cucunya. Mungkin, jika dilihat dari uang yang diterima oleh sang kakek per harinya, semangat itu tidak sebanding. Tapi toh, masih bisa bertahan, itu artinya pengabdian itu berhasil.

Akhirnya, terima kasih buat kakek, yang lumayan memberi suntikan semangat buat saya yang sedang menganggur.  Semangat itu yang kadang tidak pernah saya miliki. Kini kakek memberi saya sebuah pelajaran, bagaimana semangat itu memberi kekuatan untuk mengabdikan diri pada hidup.

Online Advertising, Marketing dalam Masa Krisis

Krisis ekonomi global yang terjadi saat ini membuat banyak negara kelimpungan. Bank-bank, kecil atau besar kelimpungan. Berbagai upaya ditempuh oleh berbagai pimpinan negara untuk keluar dari krisis.

Tapi ada satu hal yang ternyata menigkat. Berikut kutipan dari detik.com

Ternyata krisis ekonomi tidak selalu membawa pegaruh yang buruk. Terbukti, iklan online mampu meningkat 11 persen dari tahun lalu justru saat perekonomian sedang tidak stabil seperti sekarang ini.

Pada kuartal ketiga 2008 pendapatan iklan online mencapai USD 5,9 miliar. Ini artinya peningkatan 11 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun 2007. Demikian data Interactive Advertising Bureau yang dilansir detikINET dari Cnet, Minggu (23/11/2008).

Namun, bisa jadi ini berarti iklan online belum terpukul dan bukannya tidak mengalami pukulan. Pasalnya, dari kuartal kedua ke kuartal ketiga 2008 peningkatannya hanya dua persen alias menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan melambat.

Data pada tiga kuartal awal tahun 2008 menunjukkan pendapatan iklan meningkat secara keseluruhan menjadi USD 17,3 miliar. Ini naik dari USD 15,2 miliar di periode yang sama tahun 2007.

Peneliti marketing online, ComScore Inc menunjukkan seberapa besar iklan online mencapai pemirsanya. AOL meraup 173 juta atau sekitar 91 persen dari 190,6 orang di Amerika Serikat yang online. Sedangkan Yahoo Network menempati posisi kedua dengan 164 juta orang dan Google ketiga dengan 158 juta orang.

Sumber: Detik.com

Bukan suatu hal yang aneh memang. Ketika media promosi konvesional akan kesulitan pembiayaan karena menigkatnya berbagai harga bahan baku, mau tidak mau biaya iklan akan membengkak. Media promosi online masih dianggap mampu memberikan hasil yang maksimal. Pada dasarnya, apabila promosi online jika dilakukan dengan tepat sasaran dan perencanaan matang memang lebih terfokus dan tepat sasaran. Dengan analisis yang tepat, target marketing melalui media online memang lebih mengena jika dibandingkan dengan metode promosi konvesional.

Tulisan berikut ini juga mungkin berkaitan:

Akhirnya aku Menjadi Pengangguran

Siang tadi saya resmi mengundurkan diri dari tempatku bekerja selama ini. Meski mulut terasa rapat untuk mengucapkan selamat tinggal buat rekan-rekan kerja sekantor, kaki terasa berat untuk meninggalkan kantor yang selama ini sudah berjasa membuat perutku bisa terisi nasi, tapi niat sudah bulat untuk mencoba menjadi pengangguran.

Sepertinya tidak perlu diceritakan, kenapa saya lebih memilih mengundurkan diri dari kantor tempat bekerja. Hanya tidak ingin timbul persepsi macam-macam di antara rekan sekantor.

Menjalani hidup sebagai pengangguran (tepatnya tanpa pekerjaan tetap, tepatnya tanpa menjadi karyawan atau PNS) kadang menjadi beban. Jika saja orang tua saya di kampung tahu bahwa saya sudah pensiun muda (cieh istilah apa lagi ini), mungkin mereka akan mencak-mencak. Dianggap tidak serius bekerja, tidak fokus pada karir, dan sejuta alasan memojokkanku. Masyarakat kita umumnya masih terpaku pada pekerjaan yang memberikan jaminan pasti, ada gaji bulanan pasti, artinya paling tidak dapur tetap ngebul selama menjadi karyawan.

Manusia selalu ingin mendapatkan pengakuan, meski gaji kecil tapi menjadi seorang PNS misalnya, akan menjadi lebih dihargai ketimbang orang yang tinggal di rumah tetapi menghasilkan berkali-kali gaji seorang karyawan atau PNS. Pekerjaan erat kaitannya dengan status sosial. Orang yang bekerja di suatu perusahaan dianggap ulet dan rajin. Status sosial juga dianggap lebih tinggi. Mempunyai kantor, atau bekerja di kantor dianggap lebih baik daripada bekerja di rumah dengan memakai celana kolor. Sepintas memang kelihatannya kerja dirumah merupakan pekerjaan seorang pemalas. Benarkah.?? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Saya ingin memberi sebuah realita, yang saya sendiri mengalaminya. Saya saat ini bekerja menjadi konsultan pada sebuah perusahaan export, saya tidak harus datang ke kantor saya setiap hari, cukup datang 2 minggu sekali. Atau bila sangat urgent kadang seminggu sekali. Itu pun bisa saya yang atur, kapan ketemuan, jam berapa dan dimana. Meski gaji saya lebih rendah dari gaji semula, tapi saya menemukan satu hal yang jauh lebih memuaskan hidup saya dari sekedar uang. Ketika saya dulu masih bekerja 5 kali seminggu, dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore, saya tidak pernah tahu bagaimana kondisi Renon pada sore hari. Nah sekarang saya tahu. Saya bisa berbaur dengan rekan2 untuk main bola. Saya bisa menghabiskan waktu sepenuh hari di kost2an. Ketika dulu, saya mau ketemu klien, saya mencari berbagai cara untuk bisa keluar kantor, sekarang saya tidak perlu itu lagi. Saya punya banyak waktu untuk menemui klien saya, untuk berkonsultasi dengan mereka, memberikan support ketika saya dibutuhkan.

Mustahil saya bisa seperti itu ketika saya bekerja penuh waktu di kantor. Sekarang saya baru bangun pagi, kadang bangun siang, belum  cuci muka langsung hidupin laptop, memeriksa beberapa email, siapa tau ada yang nyangkut dan akhirnya menjadi klien. Meski di rumah pikiran saya terus mencoba mencari berbagai alternatif memecahkan masalah yang dihadapi klien. Tapi ada asyiknya juga. Bayangkan jika ketika di atas motor sambil menghayal mencari solusi terhadap satu masalah yang sedang kita hadapi… Bayangkan apa yang bisa terjadi.

Dengan berbekal sebuah laptop butut, dan koneksi internet yang tidak lagi kencang, kini saya mencoba menjadi pengangguran. Mampukah saya bertahan hidup?

Hari Sabtu jam 4 pagi. Sudahkah Anda berpikir untuk pensiun hari ini? Mari berpikir pensiun muda…

Beberapa Berita Bahagia Minggu Ini

Setelah pindah rumah, ini adalah postingan yang saya anggap pertama. Postingan sebelumnya cuma pemberitahuan bahwa saya sudah pindah rumah.

Hmmm, sepertinya sehabis pindahan rumah, banyak berita bahagia yang menyelimuti blog ini.

Pertama, acara Megibung Bersama BBC dan rekan-rekan blogger dari mancanegara (dalam rangka Pesta Blogger 2008). Dihadiri sekitar 50 orang anggota BBC, 5 blooger asing, dan beberapa teman2 panitia Pesta Blogger.

Lima blogger asing itu adalah Mike Aquino dari Filipina, Jeff Ooi (Malaysia), Mr. Brown (Singapura), Mark Tafoya (Amerika Serikat), dan Anthony Bianco (Australia). (so sorry friend, this post is in Bahasa, next time will be in English). Selama berada di Bali, mereka dikawal oleh Iman Brotoseno dan Iqbal Prakasa pemilik Wetiga, serta teman-teman dari Bali Blogger Community.

Acara berjalan seru, lelucon dari Saylow, Bowo, dan Viar, serta tarian joged bumbung membuat suasana kocak dan penuh tawa. Dalam acara ramah tamah dan perkenalan blogger asing, kami duduk di lantai, lagi2 suasana kocak mengiringi sesi ini. Antusiasme mereka (blogger asing), membuat kami beberapa kali bertepuk tangan memberi applaus. Sungguh, mereka sangat terkesan dengan Bali. Sayang, untuk kalangan blogger internet ternyata menjadi masalah.

Diumumkan pula pemenang lomba Blog dalam rangka Kuta Karnival dalam kesempatan ini. Berikut Release-nya

Sebagai salah satu bagian dari masyarakat Bali, maka BBC terpanggil untuk berpartisipasi dalam kegiatan Kuta Karnival 2008. Karena itu BBC mengadakan kegiatan BBC Support Kuta Karnival yaitu salah satunya kegiatan Lomba Blog (13 Oktober - 14 November 2008).

Materi penilaian meliputi orisinalitas, kedalaman, pengalaman praktis, gaya bercerita, desain dan interaksi.

Sesuai keputusan dari Dewan Juri yang ditunjuk yaitu Wicaksono (ndorokakung.com, senior blogger Jakarta), I Made Cock Wirawan (blogdokter.net, senior Bali Blogger), dan Wayan Juniartha (Wartawan The Jakarta Post dan pemerhati budaya Bali) pemenang lomba blog tersebut adalah :

Keputusan yang diambil oleh para juri tersebut tidak bisa diganggu gugat.

Dimohon pemenang agar menghubungi panitia melalui email lomba[at]baliblogger.org untuk proses penyerahan hadiah. Terima kasih atas partisipasi dan perhatiannya.

Denpasar, 18 November 2008.
Panitia BBC Support Kuta Karnival.

Para peserta lomba blog adalah sebagai berikut.

*) Dari Bali Blogger. Terima kasih buat Mas Hendra, hingga sukses lomba blog ini

Kedua, belum genap pindahan rumah sebulan, tapi malam ini blog ini sudah PR 3. Lho, emang apa untungnya? Entahlah, senang aja melihat di toolbar pagerank blog ini 3/10. Hehehehe. Narsis betul…

Ketiga, PayPal kini tersedia dalam Bahasa Indoensia. Ini berita bagus, dengan masuknya PayPal ke Indonesia saja sudah memberikan peluang kepada para pebisnis online untuk mengembangkan pemasarannya ke luar negeri. Apalagi dengan tersedianya PayPal dalam Bahasa Indonesia, itu artinya PayPal sudah menaruh kepercayaan yang cukup besar bagi Indonesia.

Ketika krisis global menggila, kenyataannya belanja online tidak terpengaruh oleh krisis global ini. Di sektor properti, otomotif, perbankan dan sektor lainnya, satu per satu pemainnya mulai tumbang. Tidak demikian halnya dengan bisnis dot com. Meski bisnis dot com baru kesulitan mendapatkan pendanaan, tapi belanja bisnis ini tidak mengalamai perubahan yang signifikan. *).

Jadi, kenapa tidak mencoba alternatif bisnis internet dari sekarang??? Ayo giatkan ekspor, peluang ada di depan mata…

Pengoemoeman: Pindah Rumah

Cuma postingan singkat, ngasi tahu kerabat dan handai taulan, bahwa blog kesayangan saya yang dulu beralamat di http://bali.ikads.com sudah tidak lagi kost alias numpang alamat di ikads.com

Kini blog saya sudah berdiri sendiri dengan rumah baru yang kami beri nama http://ikads.net…

Tapi jika masih mau mengaksesnya dari http://bali.ikads.com, Anda akan diteruskan secara otomatis ke halaman ini..

Buat saya sendiri, selamat menempati rumah baru….

Narsis dikit

Akhirnya Pinatih.org Diresmikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika

Setelah sekitar dua bulan bergelut dalam pengembangan dan desain website (tepatnya sebuah blog) warga www.pinatih.org.. Akhirnya pada hari yang sangat bersejarah, tanggal 26 Oktober 2008 bertepatan dengan Mahasabha Pertama Warga Arya Wang Pinatih, website ini resmi menjadi website warga dan disahkan sebagai media informasi dan komunikasi paiketan.

Berawal dari pertemuan kami bertiga, saya sendiri, Wawan dan Dewi dalam blognya Wawan, akhirnya kami bersepakat untuk kopdar di sebuah warung di Kuta. Dari sinilah akhirnya tercetus untuk membuat website. Tujuan awalnya hanya untuk berbagi informasi secara informal antar sesame warga. Dari sana, kemudian terbeli sebuah domain pinatih.com. Dalam waktu sekitar dua minggu, desain awal dan konsep website tergambar dalam pemikiran kami.

Meski hanya berbekal beberapa literature, kami memposting beberapa tulisan. Dengan berbekal kamera seadanya, kami berkeliling Bali, mengabadikan pura-pura kawitan yang disungsung oleh Warga Arya Wang Bang Pinatih. Dalam sebulan terbentuk sebuah website yang masih sangat sederhana.

Meski masih sangat sederhana, dan belum lagi genap berumur sebulan, respon pengunjung website ternyata sangat bagus. Dari forum dan buku tamu yang kami sediakan, terlihat antusiasme warga untuk berbagi dan mendapatkan informasi seputar Warga Arya Wang Bang Pinatih.

Dalam beberapa minggu, website ini sampai ke tangan Panitia Mahasabha Pertama. Pada satu rapat persiapan mahasabha di Hotel Wito Denpasar, website ini pertama kali diperkenalkan kepada warga. Disinilah secara langsung, website ini direstui dan mendapat apresiasi dari panitia Mahasabha. Disini juga dengan persetujuan panitia, ditambahkan lagi satu domain, www.pinatih.org, yang kemudian menjadi website resmi Warga Arya Wang Bang Pinatih.

Berbekal restu ini, semangat kami menyala, beberapa kali malam mingguan kami lewatkan bertiga, pacar kami hanya laptop, free hotspot, dan beberapa ribu harga makanan di sebuah warung di Jalan Hayam Wuruk. Sementara Mahasabha tinggal hitungan hari, kami berusaha menyelesaikan website ini sebelum Mahasabha. Dengan harapan pada saat mahasabha kami sudah bisa mendemonstrasikannya di hadapan warga.

Dan hari bersejarah itu akhirnya tiba, website www.pinatih.org sudah diakui dan akhirnya diresmikan oleh Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, ditandai dengan pemukulan gong sebagai tanda pembukaan Mahasabha dan sekaligus peresmian website.

Haru, bangga. Teman kami nyaris meneteskan air mata saking harunya. Akhirnya, usaha kami untuk mempersembahkan media yang semoga bisa menjadi media tercapai sudah. Meski masih jauh dari kesempurnaan, semoga website ini, sesuai harapan dari kebanyakan pengunjung, bisa menjadi media yang bisa mempererat pasemetonan warga Arya Wang Bang Pinatih dimana pun berada.

Harapan kami, Mahasabha ini bisa menjadi media pemersatu warga Arya Wang Bang Pinatih khususnya, dan masyarakat umunya. Pembentukan paiketan bukanlah usaha untuk menajadikan diri lantas merasa ekslusif atau untuk tujuan jor-joran. Atau bertujuan menggalang kekuatan politik untuk kepentingan politik tertentu.

Semua berharap, dengan Mahasabha dan resminya paiketan ini, ditunjang dengan website ini, komunikasi makin terjalin. Kebersamaan makin terasa. Menegakkan swadhrama agama dan swadharma negaa.

Blogger pun Ikut Meriahkan Kuta Karnival, Efektif?

Ketika suatu event besar dengan skala Internasional, pastinya akan merangkul media nasional, bahkan internasional sebagai media publikasi. Event sebesar Kuta Karnival ternyata menggunakan cara yang baru dan berbeda untuk publikasi. Selain merangkul berbagai media, baik media cetak maupun elektronik, panitia Kuta Karnival juga menerobos pakem lama, dimana media cetak dan media elektronik sebagai media yang paling ampuh dalam publikasi. Kini Panitia Penyelenggara Kuta Karnival menggandeng para blogger, khususnya Blogger Bali yang tergabung dalam Bali Blogger Community (BBC).

Lantas, apa yang membuat publikasi Kuta Karnival menjadi booming lewat internet? Kira-kira begini. Anggota Bali Blogger Community yang terdaftar lebih dari 200 orang. Sementara anggota yang cukup aktfi antara 50-100 orang. Aktif dalam arti posting tulisan di blog masing-masing atau aktif berperan serta dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh BBC.

Nah, anggap saja ada 25 orang blogger Bali yang menulis tentang Kuta Karnival, tentu saja dengan sudut pandang yang berberda-beda dan gaya penulisan yang berbeda-beda pula. Belum lagi ada lomba penulisan blog tentang Kuta Karnival yang dikomandani oleh BBC, anggap saja ada 25 blogger yang mendaftar. Jadi setidaknya ada 50 tulisan tentang Kuta dan khususnya Kuta Karnival.

Kita lihat sekarang, ada 100 media partner yang menulis dan menyiarkan event Kuta Karnival. Satu Koran akan memuat satu kali berita ini, dan satu televisi akan menayangkan satu kali event ini. Mungkin banyak yang membaca atau menyaksikan acara ini melalui televise. Tapi, bukankan berita itu sepintas. Kecuali kita mau mengklipingnya? Jadi, berita melalui media masa, hanya pesan lewat saja.

Sekarang kita kembali ke media internet (blogger), ada 50 blogger yang menulis tentang Kuta Karnival, dan tulisan itu akan bertahan setidaknya selama blog itu ada di dunia maya. Berapa tahun? Mungkin ada yang setahun, 2 tahun, 3 tahun, 10 tahun. Dan seterusnya. Arsip event ini akan menumpuk di internet. Dan ketika seseorang membutuhkannya kembali, tinggal ketik Google, search Kuta Karnival. Seketika info tentang Kuta Karnival hasil tulisan para blogger akan terpajang di layar monitor.

Berikutnya, mungkin timbul pertanyaan. Internet kan belum menjangkau sebagian besar masyarakat, pasti kurang efektif. Memang. Tapi, kalau tujuan promosinya untuk mengundang wisatawan datang ke Bali akan menjadi sebaliknya. Saya yakin (maaf ini keyakinan sendiri), wisatawan sudah pada pintar sekarang, sebagian besar wisatwan akan menggunakan referensi internet sebagai media riset sebelum memutuskan kemana mereka akan berlibur. Tapi jika tujuannya hanya untuk sekedar pemberitaan, media televisi mungkin ampuh.

Berikutnya. Berapa oplah sebuah surat kabar dan berapa luas jangkauannya? Kembali ke blog dan internet. Jangkauan luas, oplah tak dibatasi tinta dan kertas. Tak dibatasi malam atau deadline.

Dari sekelumit contoh ini, saya mencoba menarik kesimpulan (masih menurut pendapat pribadi), bahwa panitia Kuta Karnival sudah cukup jeli menjadikan blogger sebagai mitra publikasi. Potensi blogger, dari hari ke hari makin eksis. Kenapa blogger?. Karena disana, apa yang dilihat, dirasa, didengar akan ditulis oleh blogger, tanpa aturan jurnalisme yang ketat. Disana juga ada interaksi. Pembaca bisa menambahkan atau mengurangi tulisan dengan komentar yang tersedia dalam setiap postingan.

Makin banyak orang yang menyadari bahwa berbagi itu indah. Seperti obrolan saya dan Hendra W.S. bersama Ndorokakung (Mas Wicaksono) beberapa malam yang lalu ketika meminta kesediaan beliau menjadi juri Lomba Menulis Blog yang diadakan oleh BBC, bahwa tujuan ngeblog karena kepuasan batin, uang nomer 17 katanya. Beliau menyatakan, bahwa kita begitu mudahnya menerima dari internet. Kita butuh MP3 tinggal download, butuh referensi ilmiah tinggal buka Wikipedia. Butuh video, buka Youtube. Lantas, jika tidak ada orang yang berbagi, kapan kita bisa menikmati internet seperti sekarang???

Sedang, kata Pak Nukman Luthfie, ngebloglah dengan cinta. Maka kita tidak akan merasa kelelahan atau kehabisan bahan tulisan.

Sekarang kembali ke blogger, siapkah blogger menjadi agen perubahan? Bukankah dengan ngeblog, menyampaikan informasi yang jujur kepada khalayak adalah bentuk pengabdian?

Sedang di sisi pemerintah dan pihak yang mempunyai kompetensi, siapkah mengajak dan mengeksplorasi potensi para blogger?

Juga dimuat di wisatabali.net