Barangkali hampir setiap hari kita menerima ucapan terima kasih. Dari sodara, pasangan, teman, dan yang lainnya. Tapi pernahkah anda merasakan dan menerima ucapan terima kasih yang sangat indah??
Begini, beberapa hari yang lalu saya berencana berangkat ke kantor salah satu klien untuk presentasi. Di perjalanan, saya lihat jarum penunjuk minyak di motor mendekati huruf E, artinya beberapa ratus meter lagi motor saya tidak bisa jalan karena kekurangan bensin. Saya melewati sebuah pompa bensin, rame…Akhirnya terlewatkan beberapa ratus meter. Dan benar saja, motor saya mulai tersendat-sendat.
Panik, pompa bensin berikutnya masih beberapa kilometer lagi. Tiada pilihan lain, selain membeli bensin eceran di “pertamini” alias kios bensin kecil yang dikemas dalam botol-botol kecil berisi satu liter di pinggir jalan. Beruntunglah, cuma beberapa puluh meter akhirnya saya temukan sebuah pertamini. Saya parkir motor, turun di depan kios bensin itu. Celingak-celinguk, karena tidak ada orang yang menjaga kios itu. Nunggu beberapa menit, sambil melihat seorang kakek yang sudah cukup renta mengaduk semen. Di sebelahnya tampak sebuah bangunan baru semacam toko. Ketika si kakek melihat saya celingukan di depan kios bensin, beliau kemudian menghampiri saya.
Dengan suara gemetar dan tubuh penuh keringat, si kakek bertanya “Gus, kuangan bensin?”
“Nggih, kak” saya jawab. “Kak ngadol bensin?” saya lanjutkan.
Tanpa menjawab, dengan tangan gemetar, kakek mengambil sebotol bensin. Tangan kirinya mengambil saringan bensin.
Saya buka sadel, buka tutup tangki, dan masih dengan tangan gemetar selanjutnya si kakek menuangkan bensin itu ke tangki motor saya. Melihat tangan yang gemetar itu, saya ambil alih botolnya dan saya tuangkan sendiri bensin ke tangki motor saya.
Selesai, si kakek menaruh botol dan saringannya, saya ambil dompet. Mengeluarkan 50 ribuan untuk membayar bensin. Si kakek terkejut saya sodori 50 ribuan. “Ten wenten jinah alit, gus?” tanyanya.”Ten wenten, kak” saya jawab.
Kemudian, dia mengambil bungkusan plastik dari saku lusuhnya, ternyata isinya uang. Puluhan uang seribuan dikeluarkan dari bungkus plastik itu. Ternyata kakek sudah tidak pandai matematika, mungkin karena sudah pikun. Dihitung-hitung, ternyata semua uang di dalam plastik tidak mencukupi sebagai kembalian uang 50 ribuan tadi. Saya putuskan menambah 1 liter bensin lagi. Tetap, masih kurang 5000 rupiah. Si kakek bilang mau nukar uang saya di warung seberang jalan.
Saya berpikir, jalan rame begini si kakek harus nyeberang jalan. Ah nggak usahlah saya minta kembalian 5000 tadi. Sebenarnya si kakek masih ngotot ingin menukar uang, tapi karena saya juga ngotot tidak usah dikembalikan, akhirnya beliau tidak jadi menukar uang. Dengan suara tuanya serasa berbisik mengucapkan “Terima kasih, gus”.
Saya tidak jawab, tapi saya balik tanya-tanya. Dari situ saya tahu, ternyata sambil nunggu kios bensinnya, beliau sambil meburuh ngaduk semen untuk bangunan yang disebutkan tadi. Karena tidak mampu bekerja seberapa, beliau cuma digaji paling banyak 10 ribu per hari dari pekerjaan ngaduk semen tadi.
Si kakek bercerita banyak, karena anaknya tidak ada yang menjadi pegawai negeri (khayalan khas para pengelingsir), semuanya hanya menjadi tukang tajen. Kebutuhan rumah tangganya masih juga dipikul oleh beliau. Kadang-kadang cucunya juga masih minta uang darinya. Bukan untuk biaya sekolah, tapi untuk preteli motor, kemudian gabung jadi geng motor, kebut-kebutan atau untuk nongkrong dan mabuk di depan Circle-K.
Di akhir pembicaraan, si kakek berulangkali mengucapkan terima kasih. Terakhir sebelum saya menghidupkan mesin motor beliau mengucapkan, “Dumogi manggihin sane pinih becik, gus”
Sungguh tragis, serasa mau meloncat keluar air mata saya mendengar cerita si kakek. Di usianya yang sudah sedemikian tua, tanggung jawabnya masih sedemikian besar. Dengan memakai baju salah satu mantan calon gubernur (mungkin tidak pernah terpikir untuk membeli baju baru demi dedikasinya bagi keluarganya), beliau masuh membanting tulang. Meski untuk berdiri saja sudah gemetar, tapi demi kelangsungan hidup keluarganya, rela memegang cangkul ngaduk semen meski hasil tidak seberapa.
Saya tidak ingin tau lebih banyak bagaimana perlikau anak-anak atau cucu-cucu si kakek. Saya cuma merasakan bahwa ucapan terima kasih saat itu adalah salah satu ucapan terima kasih yang paling indah yang saya terima. Bukan sekedar sebuah nilai uang yang saya berikan lantas si kakek mengucapkan terima kasih. Tapi dari tatapan mata dan nada suara, terasa ketulusan dan kepasarahan hidup sang kakek.
Pengabdian untuk sang diri, semangat untuk keluarganya. Sayang, semangat itu hanya milik sang kakek, tanpa diikuti oleh semangat anak-anak dan cucunya. Mungkin, jika dilihat dari uang yang diterima oleh sang kakek per harinya, semangat itu tidak sebanding. Tapi toh, masih bisa bertahan, itu artinya pengabdian itu berhasil.
Akhirnya, terima kasih buat kakek, yang lumayan memberi suntikan semangat buat saya yang sedang menganggur. Semangat itu yang kadang tidak pernah saya miliki. Kini kakek memberi saya sebuah pelajaran, bagaimana semangat itu memberi kekuatan untuk mengabdikan diri pada hidup.